Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Demokratis Berpolitik dan Berkawan


Cita-cita persatuan dan kemerdekaan bangsa membulatkan tekadnya untuk mati-matian melawan kolonialisme dan membela kawan seperjuangan. Menolak jabatan boneka demi rakyat dan hati nurani.
Lelaki berperawakan tegap itu maju ke depan dengan langkah mantap dan teratur. Berhenti sejenak memberi hormat kepada majelis hakim di depannya, ia lalu membacakan dengan lantang pembelaan yang telah disusun jauh-jauh hari untuk kawan karibnya. Semua hadirin seperti tersihir dan hanya terdiam membisu.
“Tiada suatu fasal dalam kitab hoekoeman menjatakan bahwa daja oepaja hendak bersatoe atau mentjapai kemerdekaan itoe dapat dihoekoem. Lagi poela tiap-tiap perkoempoelan Indonesia jang berdasarkan politik dapat dikatakan, bahwa toejoeannja ialah mentjapai kemerdekaan Indonesia. Oentoek mentjapai atau menjampaikan toejoean jang diidjinkan ini maka soeatoe sjarat daripada beberapa sjarat jang teroetama: Persatoean Bangsa Indonesia,” ujarnya.
Itulah sosok dan penampilan Meester in de Rechten (MR, gelar sarjana hukum Belanda) Sartono. Berbeda dengan Bung Karno yang menjadi sahabat karibnya semasa perjuangan, ia terkesan lebih pendiam dan cenderung bersikap berhati-hati. Gaya bicaranya juga tidak meledak-ledak alias lebih terstruktur, kalem, dan analitis.
Saat itu, ia tampil sebagai pembela Bung Karno yang diadili pihak kolonial Belanda di Bandung. Pleidoi yang disusun dan disuarakannya menyempurnakan pleidoi politik Bung Karno sendiri yang bertajuk “Indonesia Menggugat”. Sekalipun terlihat fokus pada segi yuridis, namun pada beberapa bagian, pembelaannya memuat unsur politis. Dalam mukadimah, ia menguraikan kronologi penangkapan para tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) itu. Dengannya, ia ingin membuktikan, Bung Karno dan kawankawan justru menjadi korban rezim kolonial.
Dasar penangkapan mereka, menurut Sartono, hanyalah rasa takut tak berdasar yang mulai menghantui para pejabat kolonial sejak 1929. Merebak desas desus ke seantero Nusantara, pemberontakkan melawan rezim Belanda bakal segera meletup. Semangat kebanyakan penduduk di tanah jajahan Hindia-Belanda pun terbakar. Kondisi ini tentu membuat penguasa kolonial merasa tidak nyaman. Nah, rasa takut dan tidak nyaman inilah yang menjadi alasan Bung Karno dan kawan-kawan ditangkap dengan selubung tuntutan hukum.
Akhirnya, setelah empat bulan bersidang, pengadilan kolonial menjatuhkan vonis pada 22 Desember 1930: Bung Karno dikurung 4 tahun, Gatot Mangkupraja 2 tahun, Maskun 1,8 tahun, dan Supriadinata 1,3 tahun. Bung Karno sendiri dipenjara di Sukamiskin Bandung (dan dibebaskan lewat keputusan Gubernur Jenderal). Sartono lalu membubarkan PNI yang dianggap rezim sudah melanggar hukum sehingga membuat anggota PNI lainnya rawan ditangkap. Menurut pengamat kehidupan pribadi Sartono, RM Daradjadi, pada 1925, MR Sartono bersama Bung Hatta, menyusun “Manifesto Perhimpunan Indonesia”. Konsep ini memuat garis perjuangan pemuda dalam menggapai kemerdekaan—yang mengilhami Sumpah Pemuda. Sebelumnya, ia bertemu Bung Karno saat bermukim di Bandung. Bersama Ir Anwari, MR Sunaryo, Dr Cipto Mangunkusumo, ia lalu mendirikan pergerakan nasional yang menjadi cikal bakal PNI.
MR Sartono (kanan) dan Soekarno (kedua kiri) di gedung Indonesia Menggugat, Bandung.
Andil Sartono juga cukup besar bagi terselenggaranya Kongres Pemuda pada 1928 di Kramat Raya 106, Jakarta. Khususnya, saat pihak kolonial mengancam akan membubarkan kongres tersebut karena dianggap secara sepihak menyalahi aturan hukum yang berlaku. Dengan berani dan cerdik, Sartono berhasil mematahkan dalih aparat Belanda yang berniat menggagalkan kongres.
Pada 1933, Sartono bersama sejumlah koleganya mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Namun lantaran Belanda menganggapnya ilegal, partai itu hanya mampu bertahan hingga 1938. Tak patah arang, Sartono dan kawan-kawan kembali mendirikan perkumpulan yang dinamai Gerakan Indonesia (Gerindo)—yang akhirnya juga dibubarkan menyusul masuknya Jepang ke Indonesia pada 1942.
“Saat Jepang bercokol di Tanah Air,” ungkap Daradjadi, “Sartono mempertemukan Hatta yang baru tiba dari pembuangannya di Banda bersama Sutan Syahrir dengan Bung Karno yang berada di Bengkulu.” Mereka lalu bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan yang, berkat dukungan rakyat, berujung pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tak lama darinya, Sartono dilantik menjadi Menteri Negara.
Pada 1950 (hingga 1959), saat demokrasi sedang mekarmekarnya di Indonesia, Sartono dipercaya sebagai ketua parlemen. Namun, seperti sekarang, pada 1952, menyeruak kecurigaan adanya praktik korupsi di tubuh parlemen. Eskalasi politik pun memuncak pada peristiwa 17 Oktober 1952.
Sebelumnya, pembelian Kapal Motor Tasikmalaya oleh Kementerian Pertahanan ditengarai beraroma korupsi. Lalu muncul gerakan massa membawa mortar dan meriam ke Istana Merdeka. Menyikapi itu, Sartono mengusulkan pemilihan umum dipercepat.
MR Sartono menjadi wali pernikahan putrinya, Sri Sartono (kedua kanan) disaksikan M. Hatta (kiri).
Kejadian menarik berikutnya berlangsung pada 1955. Saat itu Sartono dianggap melakukan kesalahan fatal lantaran mengizinkan Komisi J melanggar tatatertib dengan melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Lalu, ia dengan legowo mundur dari jabatan ketua parlemen menyusul diperkarakannya kasus tersebut. “Tidak pantas orang yang sedang menjadi terdakwa duduk di kursi pimpinan,” ujar Daradjadi mengutip kata-kata Sartono.
Pada 1956, Hatta mengajukan dirinya mundur dari jabatan wakil presiden. Alasannya, ia ingin lebih dulu melihat sejauh mana kemampuan konstituante menyusun undang-undang. Terpaksa pihak parlemen yang dipimpin Sartono menyetujuinya. Namun, muncul persoalan baru: Siapa yang harus mengisi kekosongan jabatan wakil presiden yang ditinggalkan Hatta? Masalah ini lalu dibicarakan dalam sidang parlemen dan sempat memicu perdebatan sengit.
Akhirnya, semua pihak sepakat menjadikan ketua parlemen sebagai pejabat presiden yang akan membantu presiden menjalankan tugasnya bila berhalangan, baik secara tetap maupun sementara. Sartono menjalankan fungsi pejabat presiden sejak 1957 hingga 1959.
Perjalanan demokrasi parlementer mencapai klimaksnya pada 1959. Diawali saat Bung Karno mengajukan rancangan dekrit politilknya ke parlemen. Dikarenakan gambaran dalam dekrit itu dipandang tidak relevan dengan kenyataan yang ada, parlemen pun menolaknya. Merasa gusar, Bung Karno langsung membubarkan parlemen hasil pemilu itu.
Sebagai gantinya, dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), yang anggotanya diangkat sendiri oleh Bung Karno. Tapi, sebelum “parlemen boneka” itu bekerja, Bung Karno berencana merekerut Sartono untuk dijadikan anggota sekaligus ketua. Mendengar itu, Sartono segera menyurati Presiden untuk menolak jabatan itu lantaran bukan berasal dari pilihan rakyat sehingga bertentangan dengan hati nuraninya.
Ya, kendati dekat, membela, dan sangat loyal pada Bung Karno, Sartono tetap bersikap objektif dan berlapang dada. Sejak itulah karier politiknya mulai redup. Ia bahkan sempat absen beberapa waktu dari kancah politik. Namanya kembali muncul di pentas politik nasional setelah Bung Karno mengangkatnya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Penyandang gelar MR dari Universitas Leiden, Belanda yang dijuluki Daradji “nasionalis, demokratis, dan pluralis” ini akhirnya wafat di Jakarta pada 15 Oktober 1968.
Kiri-kanan: P.I Darmawan Mangkusumo, M. Hatta, Iwa, Sastromulyono, dan MR Sartono
Pejabat Presiden Tak Punya Uang
Sebagai keturunan arsitokrat Jawa, Bapak Parlemen kelahiran Slogohimo, Wonogiri, 5 Agustus 1900, ini sangat menjaga etika dan tatakrama. Ini tercermin dari hubungan dan komunikasi sehari-hari Sartono dengan sang putri. “Kalau saya mau bicara dengan Bapak, muncul rasa takut, tunduk, canggung, lalu menggunakan bahasa Indonesia yang benar-benar halus, sopan. Padahal dengan Ibu, saya selalu berbahasa Jawa. Kalau dengan Bapak tidak boleh seperti itu,” kenang Sri Mulyati Muso, putri kedua Sartono.
Selain itu, Sartono lebih memilih hidup sederhana. Ia pernah menolak tawaran untuk membeli rumah mewah di jalan Imam Bonjol dengan harga jauh di bawah rata-rata—malah terlalu murah untuk ukuran saat itu. Pasalnya, ia memang tak punya uang untuk membelinya. Padahal, saat itu ia menduduki jabatan sebagai pejabat presiden.
Menurut Sri, selama menjadi pengangguran politik (pasca dibubarkannya Parlemen), Sartono lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berolah raga, membaca buku, dan menerima tetamu (dalam dan luar negeri) yang rata-rata berpofesi penulis. “Bapak berolahrga setiap pagi, jalan kaki ringan di sekitar rumah. Setelah itu, beliau membaca buku,” imbuhnya.
Winda Destiana

Selasa, 10 Juli 2012

Komprensi Perantauan Sungai Pua Taisuak II

Written by Andika   
Thursday, 16 September 2004
Mamak :
Duduak lah kamari den sambuang carito patang!
Kamanakan :
Jadih mak, alah bananti bana kalanjutan carito antun mak!
Mamak :
Sampai dima patang carito awak ?
Kamanakan :
Tanyo ambo, Sia nan mamimpin sidang-sidang dalam komprensi antun ?
Mamak :
Sabalun komprensi dilangsuangkan, alah dibantuak satu badan nan mamimpin jalannyo sidang/rapek salamo komprensi balangsuang nan marupokan wakia dari alim ulama, niniak mamak, cadiak pandai dan urang mudo.
Susunan Pimpinan sidang tadiri dari :
   Jamain Tuanku Mudo
   Dt. Sinaro Kayo
   N. Dt. Tan Bandaro
   Kasuma St. Marajo
Sabalun panitia Komprensi manyarahkan ka katua sidang, talabiah dahulu diadokan sambutan-sambutan nan cukuik hangek dari tokoh masyarakat. Persatuan Penghulu-penghulu dan Niniak mamak Limo Jurai Sungai Pua manyarahkan medali bintang kehormatan kapado panitia sabagai tando penghargaan dan ucapan tarimo kasih. Medaliko disamekkan di dado panitia.
Partai politik PERMI Sungai Pua juo malakukan hal nan samo, sadang organisasi Jamiatus Syura Sungai Pua, dan Ittihadun Nisak Sungai Pua  mahadiahkan sebuah vandel dari beludru nan malukiskan fajar menyingsing di balakang gunuang marapi dan bertuliskan :
KONPERENSI PERANTAUAN SUNGAI PUAR
16 - 21 Februari 1932 (9 -14 Syawal)
di SUNGAI PUA

Kamanakan :
Salamo komprensi lai amanse mak ?
Mamak :
Alhamdulillah, salamo komprensi sidang-sidang bajalan baik dan aman, hanyo sajo api unggun nan diadokan kepanduan Sungai Pua dibubarkan dek pulisi Balando.
Kamanakan :
Ba'a sambutan masyarakat mak?
Mamak :
Komprensi mandapek sambutan baiak dari masyarakat, keluarga Sungai Pua yang pulang dari parantauan basumangaik mahadiri rapek-rapek pertemuan sahinggo panuah gedung tampaik komprensi balangsuang. Baitu juo telegram samo surek-surek dari keluarga Sungai Pua diperantauan nan jauah-jauah dan indak sempat pulang jo disaratoi do'a restu semoga berhasil, sarupo dari : Lutan Majid ateh namo warga Sungai Pua di Singapura dan semenanjuang Malaysia. Kasuma St. Pamuncak dari Jakarta, Agus St. Pangeran dari Banduang, Dewan St. Bandaro Putiah dari Muaro Aman Bengkulu dan lain lain.
Kamanakan :
Ba'a jo sidang-sidang di komprensi antun mak ?
Mamak :
Sasudah mandanga babarapo prasaran-prasaran jo penerangan, komprensi jo mufakat dan suaro Bulek mambantuak organisasi anak nagari Sungai Pua yang tingga di parantauan dan berpusat di Bukittinggi, sedang cabang-cabangnyo dapek didirikan dima sajo anak nagari Sungai Pua badomisili, sadang anggota-no anak nagari Sungai Pua V Jurai tamasuak Sumando, anak pisang dan nan batalian darah jo anak nagari Sungai Pua. Organisasi antun diagiah namo "Penyantuni Anak Nagari Sungai Pua" disingkek "P.A.N. Sungai Pua", nan usaho dan karajo-no diparantauan mangatur dan mangurus kesejahteraan sosial, tata tertib pergaulan dirantau, tolong manolong diwaktu kasusahan, memajukan pendidikan dan pelajaran, samantaro di bidang ekonomi mambatuak koperasi koperasi, tabungan simpan pinjam, badan-badan dari usaho dagang jo karajinan industri sacaro basamo samo untuak kamajuan perekonomian.
Kamanakan :
Tantu komprensi antun mamiliah pangurus organisasi, jo tugas nan tatantu mak?
Mamak :
Komprensi mamiliah anggota pangurus besar yang bakantua pusat di Bukit Tinggi, sadang pangurus lain dipiliah sacaro representatif dari peserta komprensi.
Susunan peungurus besar nan dipiliah adolah :
   Ketua                   : Jamain Tuanku Mudo
   Sekretaris              : Murad Dt. Putiah
   Pemb. Sekretaris     : Kamaluddin Ibrahim
   Bendahara             : Bustami
   Anggota               : Umar Dt. Garang
                                Hasan Yunus Dt. Nan Sati
                                Syahruddin Ibrahim

   Anggota daerah    : Abdullah St. Bagindo (Lubuak Basuang)
                                Abdul Gani St. Mudo (Batusangka)
                                A. Muthalib Rajo Mudo (Payakumbuah)
                                Mohd. Duya Aidit (Padang)

Kamanakan :
Sasudah tabantuak organisasi dan pamilihan pangurus besar, apo nan lain kaputusan komprensi lai mak ?
Mamak :
Salanjuik-no ditatapkan tiok-tiok tahun wakatu-no di bulan syawal diadokan komprensi tahunan di Sungai Pua dan dihadiri oleh utusan daerah nan ka mampakecekkan pangambangan organisasi jo kalancaran usaho. Paliang lambek dalam satahun ditugaskan kapado pangurus besar untuak mambantuak cabang-cabang, mambimbiang dan maagiah pangarahan, sahinggo-no ditahun nan kaduo sado cabang alah ado.
Kamanakan  :
Ba'a jo kanpvuur kepanduan/pramuka, mak ?
Mamak :
Untuak mamariahkan komprensi, diadokan kampvuur/api unggun oleh kapanduan batampaik disawah dahulu. Wakatu upacara pambukaan kanpvuur dimulai, pimpinan kampvuur Hasan Yunus mamintak kapado hadirin untuak manyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" peristiwa iko mambuek komisaris polisi Balando Reynard langsuang mambubarkan kanpvuur dan indak buliah dilanjuik-gan, samantaro hadirin disuruah bubar. Akibaik-no malah samakin maluap luap sumangaik pemuda untuak mansukseskan komprensi.
Kamanakan :
Ba'a pulo jo rapek umum terbuka, mak ?
Mamak :
Wakatu komprensi Perantauan Sungai Pua tahun 1932 antun, juo diado-gan rapek umum terbuka (rapek raksasa) untuak penbicara-no wakatu antun :
   H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo,
   Pidato-no : Adat Minangkabau dan pergerakan Indonesia
   K.H. A. Gafar Ismail
   Pidato-no : Kepentingan Organisasi untuk rakyat Indonesia
   Mohd. Taher Marah Sutan
   Pidato-no : Pemandangan umum ekonomi Indonesia
   H. Mochtar Luthfy
   Pidato-no : Pemandangan umum pergerakan Islam dan Kebangsaan
Sabalun rapek raksasa antun di ado-gan, pamarintah Bulando diado-gan parintah haluih ka duo walinagari di Sungai Pua, supayo rakyat disuruah turun ka banda sawah hari antun, sarupo biaso juo nan dilakukan tiok tahun, tantuse mukasuik-no supayo rakyat indak sempat datang dan rapek raksasatu gagal.
Tapi panitia komprensi dapek aka ba'a supayo ndak gagal, dianjurkan ka rakyat supayo turun ka banda subuah subuah, sahinggo-no jam 9 alah salasai indak ado nan ka dikarajo-gan lai, dari banda langsuang pai mahadiri rapek raksasa, sambia mambawo alaik alaik ka banda tadi, pankua, ladiang jo sabik.
Rapek raksasako sabana sasak didatangai rakyat, indak dari Sungai Pua sajo, ado nan dari kampuang kampuang sakitar Sungai Pua.
Kamanakan :
Ba'a pulo carito olahraga sepak bola salamo komprensi parantau antun mak ?
Mamak :
Dibidang olahraga, diado-gan pertandingan sepak bola sore hari salamo komprensi balangsuang, jo maundang kesebelasan nan tanamo di Sumatera Barat, antaro lain Gunuang Sajati Padang Panjang, Horison Payakumbuah, I.P.E Padang, Sinar Dagang Bukittinggi nan wakatu antun cukuik tanamo.
Kamanakan :
Ba'a pulo pandangan umum, ka komprensi Sungai Pua tahun 1932 antun Mak ?
Mamak :
Laporan-laporan komprensi parantau Sungai Pua diberitakan sacaro gencar dalam surek-surek kaba nan tabik di Padang, jo Medan sarupo Harian Pewarta, Sinar Sumatera, Harian Radio, Pewarta Deli dan Pelita Andalas, isinyo rato-rato mangecam pemerintahan kolonial Bulando karano mahalang halangi dan ma adokan reaksi reaksi untuak manggagalkan komprensi jo jalan mambubarkan kanpvuur pandu, pencabutan spanduk-spanduk di malam hari, pembongkaran gerbang hiasan (gaba-gaba) salamo komprensi balangsuang, sudahtu perintah halus rakyat ka banda haritu, sudahtu ado pulo razia ka anak nagari Sungai Pua nan ka pai komprensi, sakalian ditanyoi apo alah mambayia pajak, rodi, sarayo dan lain lain. Kalau alun mambayia ditahan ndak buliah pai ka komprensi atau bayia katiko tu juo, indak juo disuruah karajo labuah.
Kamanakan :
Ba'a sampai co itu mak ?
Mamak :
Alasan pamerintah Bulando untuak manggagalkan karano komprensitu babau politik, kato-no.
Kamanakan :
Ba'a pulo kaadaan satalah salasai komprensi mak ?
Mamak :
Organisasi P.A.N. Sungai Pua karano pengurus gadang-no karajo kareh, pai ka daerah daerah dima nan banyak anak nagari Sungai Pua badomisili, mambantuak cabang-cabang, mambimbiang jo mambari pangarahan. Dalam wakatu satahun alah banyak cabang-cabang dan komprensi nan ka duo langkok dihadiri dari tiok cabang.
Komprensi tahunan sampai nan ka ampek sasuai jo rencana awal diadokan tiok tahun di bulan syawal, yaitu :
1.      Tgl 16 - 21 Februari 1932
2.      Tgl 6 - 10 Februari 1933
3.      Tgl 1 - 2 Februari 1934
4.      Tgl 12 - 13 Januari 1935

Dicabang cabang alah banyak nan berhasil mangalola bidang sosial ekonomi, sarupo pengadaan dana untuak kamalangan, tolong manolong di wakatu kamatian, mangadokan pangajian Agam, mamajukan palajaran sakolah anak- anak, koperasi simpan pinjam, mambantuak badan dagang dan industri kerajinan untuak kapantingan anggota.
Sabagian cabang alah mandirikan tampaik ibadah, sakaligus tampaik bakumpua mabarikan kursus jo rapek-rapek, untuak cabang nan alun punyo surau manyewo tampaik bakumpua nan manyarupoi surau.
Sabagai tahap partamo dan rancana karajo organisasi P.A.N Sungai Pua di parantauan, iolah mampakuaik ekonomi dan mambereskan urusan sosial kaluarga Sungai Pua, kamudian sasudah cabang-cabang itu agak kuaik, dimulai malangkah katahap kaduo mambantu pambangunan kampuang Sungai Pua.
Ditangah kasibukan malaksanakan tahap partamo, pergolakan partai politik samakin bakambang pesat, hal iko mahambek kalancaran organisasi, samantaro pamerintahan Bulando manumpas partai-partai politik jo unsur unsurnyo dan mangadokan parintah larangan untuak rapek (Vergader Verbod). Kaadan antun mambuek organisasi P.A.N. Sungai Pua indak bagerak bebas, karano sabagian gadang dari pangurus dan anggota di cabang manjadi anggota partai politik. Namun koperasi, tabungan simpan pinjam, pangajian agamo jo pangadaan dana sosial jalan taruih sarupo biaso.
Kamankan :
Alah panjang carito, mak! Lah habih kupi tigo cawan sabana puweh ambo, mudah-mudahan dijadikan padoman kami nan mudo-mudo.
Mamak :
Datang juo lah waang, kok ado juo nan ka ditanyo-gan!
Kamanakan :
Tarimo kasih mak!.
Sumber :  BPS No 17 November 1986
Disadur oleh : Dewis Natra

Jumat, 29 Juni 2012

Republik Indonesia Dekolonisasi, tindakan polisi dan kemerdekaan (1942-1962)


Setelah Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, pemerintah Belanda menyadari bahwa Indonesia akan segera menjadi sasaran Jepang. Dalam beberapa bulan apa yang terjadi. 
Jepang lakukan dalam waktu yang singkat untuk merebut kerajaan pulau. Pada tanggal 8 Maret 1942 Hindia Belanda menyerah, setelah sebagian besar Belanda oleh Jepang yang diinternir di kamp. 

Cepat kekalahan

Nederlanders worden door de Japanners in kampen geïnterneerd
Banyak orang Indonesia tercengang dengan kekalahan yang cepat dari Belanda. Selain bagian dari populasi yang tidak yang penting, ada bagian bahwa Jepang dibawa dengan banyak bersorak. Untuk yang kaya sumber alam Indonesia pada pihak mereka, Jepang berjanji kemerdekaan Indonesia di bawah perlindungan Jepang. 

Kemerdekaan

Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, sebagian sebagai akibat dari bom atom pertama di Hiroshima dan Nagasaki. 2 Hari setelah kapitulasi Jepang disebut Hatta dan Soekarno, di bawah tekanan gerakan pemuda fanatik Republik Indonesia yang merdeka.

"Kami, rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia Kasus tentang pengalihan kekuasaan, dll., Akan secara tertib dan sesegera mungkin." Jakarta, 08/17/45 Atas nama Bahasa Indonesia orang,
Soekarno, Hatta.

Heran

Soekarno roept onafhankelijkheid uit
Soekarno
Belanda tidak menduga ini. Mereka tidak melihat bahwa nasionalisme selama pendudukan Jepang telah tumbuh begitu kuat. Papan di Belanda, mereka juga menganggap bahwa kekuasaan kolonial akan dipulihkan segera dan bahwa ada dapat dilanjutkan setelah proses kemerdekaan.Belanda menginginkan Indonesia sementara tentu tidak hilang, karena pendapatan dari kepulauan itu sangat dibutuhkan dalam rekonstruksi Belanda Hindia hilang, bencana lahir. 

Pertama chord

Pada November 15, 1946 datang ke perjanjian dengan kaum nasionalis: persetujuan Linggarjati. Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat. Ini akan tetap menjadi bagian dari Kerajaan dengan ratu di kepala. Kedua belah pihak mengeluarkan perjanjian berbeda dari yang diproduksi secara alami dan masalah. Pada tanggal 29 Juli 1947 pemerintah Belanda memutuskan untuk campur tangan militer di Indonesia, tindakan polisi pertama, atau Produk Operasi. Belanda tahu ini bagian belakang besar Jawa dan Sumatra pada tangan. Tentara Republik Indonesia yang mulai ini perang gerilya.

JAA van Doorn adalah tentara wajib militer pada tahun 1947 dan pergi ke Indonesia. Dia mengatakan hal berikut mengenai saat itu:

"Saya '47 pertengahan tiba untuk tindakan besar pertama Ada dua, seperti yang Anda tahu.. Dan aku tetap di sana sampai setelah penyerahan kedaulatan (...) 
Ketika saya sampai di sana dan bertemu cukup banyak orang Belanda, karena waktu terpanjang aku duduk di kota, saya memiliki beberapa waktu merasa bahwa kita dibenarkan. Dan itulah masalah sebenarnya hanya bisa diselesaikan dengan campur tangan Belanda dan, jika perlu intervensi kekerasan. (...) 
Dengan berjalannya waktu dan kritik yang Anda bisa, kita masih memiliki jalan buntu untuk penghancuran terkena. Secara khusus, tindakan kedua juga ide-ide konservatif oleh orang-orang yang telah melihat sebagai upaya putus asa untuk menyelamatkan sesuatu dari kebijakan yang gagal itu. Dan tindakan kedua, terutama juga korban yang paling biaya, juga disebut perlawanan yang paling. "

Kedua akord

Soldaten tijdens de politionele acties
Karena oposisi dari tentara Indonesia dan kecaman internasional - Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat - Belanda memutuskan untuk kembali ke meja perundingan. Kali ini kapal kapal perang Renville Amerika. Pada tanggal 18 Januari, 1948 perjanjian kedua antara Belanda dan Indonesia.Hanya jauh masih belum jelas lagi. Belanda terus berusaha untuk memastikan hubungan yang paling dekat mungkin dengan komitmen federal untuk Indonesia dan Indonesia tetap menjadi republik merdeka. Menyusul tindakan polisi kedua.

Kedaulatan transfer

Koningin Wilhelmina leest onafhankelijkheidsverklaring voor
Tekanan dari PBB di Belanda meningkat lebih dan lebih. Ini tidak cocok waktu untuk hubungan kolonial dalam posisi untuk ingin menyimpan.Belanda sebenarnya terpaksa menerima kemerdekaan Indonesia. Pada Agustus 1949 ditemukan Konferensi Meja Bundar di Den Haag di mana kesepakatan tentang kemerdekaan itu tercapai. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Istana Kerajaan di Dam penyerahan kedaulatan kepada Indonesia Serikat ditandatangani. 

Nugini

Tapi Belanda dan Indonesia belum dipisahkan.Penyebaran itu Nugini, yang tidak termasuk dalam penyerahan kedaulatan. Pada tahun 1962, hanya Guinea Baru untuk Republik Indonesia ditambahkan. Sejak saat itu adalah hubungan antara Indonesia dan Belanda terus berkembang sebagai antara dua negara independen.
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, memiliki visi berikut dari kekuasaan Belanda di Indonesia:
"Harus kita selalu di bawah kekuasaan Belanda terus (menangis keras! Tidak)?. Sekarang, bahwa akuisisi kebebasan ada di tangan kita Di seluruh dunia selalu mencari kebebasan dicari: Prancis, Inggris, Amerika, dan akan terus mencoba untuk memenangkan kebebasan Juga di Asia,. termasuk Mesir dan India, jadi kita juga! (Tepuk tangan) (...). Ketika ditanya mengapa negara-negara Eropa ada koloni di pertahanan, menyatakan dirinya tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan, kecuali mereka untuk mengakui bahwa hanya untuk mengisi perut mereka keroncongan. "
  • 7 Desember 1941 Jepang menyerang Pearl Harbor AS pelabuhan
  • 1942 Jepang serangan di Indonesia
  • Mar 8, 1942 kapitulasi Belanda di Indonesia
  • 6 & 9 Agustus 1945 AS atom bom di kota-kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki
  • 15 Agustus 1945 kapitulasi Jepang
  • 17 Agustus 1945 Proklamasi Republik Indonesia oleh Soekarno dan Hatta
  • 15 November 1946 Perjanjian Linggarjati
  • 20 Juli 1947 polisi operasi Pertama, Produk Operasi
  • Perjanjian Renville 18 Januari 1948
  • Desember 1948 Aksi Kedua Polisi
  • Agustus 1949 Konferensi Meja Bundar di Den Haag
  • 27 Desember 1949 Kedaulatan transfer di Istana Kerajaan di Dam Square di Amsterdam
  • 17 Agustus 1956 Deklarasi Kemerdekaan Indonesia
  • 1960 Indonesia istirahat hubungan diplomatik dengan Belanda
  • Akhir 1962 di bawah tekanan internasional, Belanda Nugini longgar
  • 1963 Hubungan diplomatik antara Belanda dan Indonesia dengan hati-hati dipulihkan

Kamis, 21 Juni 2012

Penyebaran Islam di Betawi

oleh alwishahab
Sejarawan keturunan Jerman, Adolf Heuken SJ, dalam buku Masjid-masjid Tua di Jakarta, menulis tiada masjid di Jakarta sekarang ini yang diketahui sebelum 1640-an. Dia menyebutkan Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, Glodok, Jakarta Kota, sebagai masjid tertua yang sampai kini masih berdiri. Masjid ini dibangun oleh orang Moor artinya pedagang Islam dari Koja (India).
Sejarah juga mencatat pada Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk sebuah masjid di kawasannya. Letak masjid ini beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia, di antara Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, Jakarta Kota.
Untuk mengetahui sejak kapan penyebaran Islam di Jakarta, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang, dan membangun pesantren di Quro.
Makam Syekh Quro di Karawang sampai kini masih banyak diziarahi orang. Di kemudian hari, seorang santri pesantren itu, yakni Nyai Subang Larang, dipersunting Prabu Siliwangi. Dari perkawinan ini lahirlah Kean Santang yang kelak menjadi penyebar Islam. Banyak warga Betawi yang menjadi pengikutnya.
Menurut Ridwan Saidi, di kalangan penganut agama lokal, mereka yang beragama Islam disebut sebagai kaum langgara, sebagai orang yang melanggar adat istiadat leluhur dan tempat berkumpulnya disebut langgar. Sampai sekarang warga Betawi umumnya menyebut mushola dengan langgar. Sebagian besar masjid tua yang masih berdiri sekarang ini, seperti diuraikan Heuken, dulunya adalah langgar.
Menelusuri awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (1418-1527), Ridwan menyebutkan sejumlah tokoh penyebarnya, seperti Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke.
Pada awalnya penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Menurut naskah kuno Carios Parahiyangan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521, yang dibantu para resi.
Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itulah saat itu penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan elmu penemu jampe pemake. Dato-dato umumnya menganut tarekat. Karena itulah banyak resi yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Ridwan mencontohkan rersi Balung Tunggal, yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramatjati, Jakarta Timur).
Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Sesudah masuk Islam, Surawisesa dikenal sebagai Sanghyang. Ia dimakamkan di Sodong, di luar komplek Jatinegara Kaum. Ajaran tarekat dato-dato kemudian menjadi ‘isi’ aliran maen pukulan syahbandar yang dibangun oleh Wa Item. Wa Item adalah syahbandar pelabuhan Sunda Kalapa yang tewas ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan luar yang dipimpin Falatehan (1527).
Selain itu juga ada perlawanan intelektual yang berbasis di Desa Pager Resi Cibinong, dipimpin Buyut Nyai Dawit yang menulis syair perlawanan berjudul Sanghyang Sikshakanda Ng Kareyan (1518). Sementara, di Lemah Abang, Kabupaten Bekasi, terdapat seorang resi yang melakukan perlawanan terhadap Islam melalui ajaran-ajarannya yang menyimpang. Resi ini menyebut dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, atau Syekh Siti Jenar. Tantangan yang demikian berat mendorong tumbuhnya tradisi intelektual Betawi.
Seperti dituturkan Ridwan Saidi, intelektualitas Islam yang bersinar di masyarakat Betawi bermula pada abad ke-19 dengan tokoh-tokoh Guru Safiyan atau Guru Cit, pelanjut kakeknya yang mendirikan Langgar Tinggi di Pecenongan, Jakarta Pusat.
Pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20 terdapat sejumlah sentra intelektual Islam di Betawi. Seperti sentra Pekojan, Jakarta Barat, yang banyak menghasilkan intelektual Islam. Di sini lahir Syekh Djuned Al-Betawi yang kemudian menjadi mukimin di Mekah. Di sini juga lahir Habib Usman Bin Yahya, yang mengarang puluhan kitab dan pernah menjadi mufti Betawi.
Kemudian, sentra Mester (Jatinegara), dengan tokoh Guru Mujitaba, yang mempunyai istri di Bukit Duri. Karena itulah ia secara teratur pulang ke Betawi. Guru Mujitaba selalu membawakitab-kitab terbitan Timur Tengah bila ke Betawi. Dia punya hubungan dengan Guru Marzuki Cipinang, yang melahirkan sejumlah ulama terkemuka, seperti KH Nur Ali, KH Abdullah Syafi’ie, dan KH Tohir Rohili.
Juga, sentra Tanah Abang, yang dipimpin oleh Al-Misri. Salah seorang cucunya adalah Habib Usman, yang mendirikan percetakan 1900. Sebelumnya, Habib Usman hanya menempelkan lembar demi lembar tulisannya pada dinding Masjid Petamburan. Lembaran itu setiap hari digantinya sehingga selesai sebuah karangan. Jamaah membacanya secara bergiliran di masjid tersebut sambil berdiri.
REPUBLIKA – Ahad, 25 November 2007

Rabu, 20 Juni 2012

Perintah Presiden Soeharto Kepada Jenderal Wiranto, Mei 1998


MENJADI host dalam sebuah talk show di sebuah stasiun televisi swasta, dua hari setelah lebaran, Dr Tanri Abeng MBA memberikan penilaian bahwa Jenderal (Purn) Wiranto telah bertindak tidak cerdas karena tak menggunakan Instruksi Presiden (Soeharto) No. 16, Mei 1998, untuk ‘mengambilalih’ kendali kekuasaan. Sementara pada masa sesudah itu, Wiranto berjuang mati-matian dalam kancah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada dua kesempatan. Padahal, isi Inpres di tahun 1998 tersebut, katanya, sangat memungkinkan digunakan untuk meraih kekuasaan. Tanri agaknya menganalogikan posisi Jenderal Wiranto tahun 1998 itu dengan posisi Mayor Jenderal Soeharto yang mengambialih kekuasaan setelah mendapat Surat Perintah 11 Maret 1966 dari Presiden/Panglima Tertinggi ABRI Soekarno.
Instruksi nomor 16 itu diambil Presiden Soeharto 16 Mei 1998, sehari sepulangnya dari Kairo, dalam rangka pembentukan ‘Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional’ (KOPKKN) yang berwenang mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi keamanan dan ketertiban. Kala itu, Jakarta dilanda kerusuhan –pembakaran, kekerasan dan perkosaan berbau etnis– menyusul insiden 13 Mei 1998 yang menewaskan 4 mahasiswa di depan kampus Universitas Trisakti Grogol Jakarta. KOPKKN ini meniru model lembaga keamanan extra ordinary ‘Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban’ (Kopkamtib) yang pertama kali dibentuk oleh Presiden Soekarno namun justru efektif digunakan ABRI sebagai alat pembasmi seluruh gerakan anti kekuasaan di separuh lebih masa kekuasaan Soeharto.

POLISI VERSUS MAHASISWA DI DEPAN KAMPUS TRISAKTI. "Sembilan dari sepuluh kemungkinan, Jenderal Wiranto akan tergilas sebagai tumbal bila ia menggunakan Inpres 16 mengambil alih kekuasaan negara" - (Dokumentasi foto Wikipedia).
Panglima ABRI –yang Mei 1998 itu dijabat Jenderal Wiranto– ditunjuk sebagai Panglima KOPKKN dan KSAD Jenderal Subagyo HS menjadi wakilnya. Menjawab Tanri, menurut Wiranto, substansi surat berisi instruksi Presiden itu, “memungkinkan saya mengambilalih negara”. Namun, baik Wiranto maupun Subagyo HS, tampaknya diliputi ‘keraguan’ dan tidak berani menggunakan Inpres tersebut dalam konteks pengambilalihan negara. ‘Keraguan’ kedua jenderal itu, disebabkan oleh alasan berbeda satu dengan yang lainnya, khususnya Jenderal Wiranto yang agaknya saat itu sudah punya agenda politik sendiri. “Permasalahannya adalah bukan berani atau tidak berani, bukan mau atau tidak mau”, ujar Wiranto, tetapi berdasarkan suatu kesadaran dan pertimbangan apakah mengambilalih itu mempunyai manfaat atau tidak bagi negara dan rakyat. “Kalau saya ambil alih, negara ini saya umumkan dalam keadaan darurat dengan pengendalian militer”. Wiranto memaparkan hitung-hitungannya, “Bila saya mengambil alih negara berdasarkan sepucuk surat saja, berarti rakyat merasa belum ada reformasi”.

Selasa, 19 Juni 2012

Sejarah Kabupaten Agam

SEJARAH

Kabupaten Agam mempunyai sejarah yang panjang dan komplit, baik di bidang Pemerintahan maupun di bidang adat istiadat. Diawali dari Kerajaan Minangkabau pada pertengahan abad ke-17, dimana rakyat Minangkabau telah memanggul senjata untuk berontak melawan penjajahan Belanda.

Pemerintahan Minangkabau yang disebut Ranah Minang, dimana Kabupaten Agam tempo dulu, selain Sumatera Barat juga termasuk daerah Limo Koto Kampar (Bangkinang) yang sekarang termasuk Propinsi Riau, Daerah Kabupaten Kerinci (Sungai Penuh) sekarang termasuk Propinsi Jambi dan sebagian daerah Tapanuli Selatan (Koto Napan) yang sekarang secara administrasi berada di Propinsi Sumatera Utara.

Pemerintahan adat mencakup Luhak dan Rantau, dimana Pemerintahan Wilayah Luhak terdiri dari Luhak Tanah Datar, Luhak Limo Puluah dan Luhak Agam. Komisariat Pemerintahan Republik Indonesia di Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi mengeluarkan peraturan tentang pembentukan daerah Otonom Kabupaten di Sumatera Tengah yang terdiri dari 11 Kabupaten yang salah satunya Kabupaten Singgalang Pasaman dengan ibukotanya Bukittinggi yang meliputi kewedanan Agam Tuo, Padang Panjang, Maninjau, Lubuk Sikaping dan Kewedanaan Talu ( kecuali Nagari Tiku, Sasak dan Katiagan).

Dalam masa Pemerintahan Belanda, Luhak Agam dirubah statusnya menjadi Afdeling Agam yang terdiri dari Onder Afdeling Distrik Agam Tuo, Onder Afdeling Distrik Maninjau dan Onder Afdeling Distrik Talu. Pada permulaan Kemerdekaan RI tahun 1945 bekas Daerah Afdeling Agam dirubah menjadi Kabupaten Agam yang terdiri dari tiga kewedanan masing-masing Kewedanaan Agam Tuo, Kewedanaan Maninjau dan Kewedanaan Talu.
SOSIOLOGI

Dengan Surat Keputusan Gubernur Militer Sumatera Tengah No. 171 tahun 1949, daerah Kabupaten Agam diperkecil dimana Kewedanaan Talu dimasukkan ke daerah Kabupaten Pasaman, sedangkan beberapa nagari di sekitar Kota Bukittinggi dialihkan ke dalam lingkungan administrasi Kotamadya Bukittinggi.

Keputusan Gubernur Militer Sumatera Tengah tersebut dikukuhkan dengan Undang-undang No. 12 tahun 1956 tentang pembentukan Daerah Tingkat II dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah, sehingga daerah ini menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Agam.

Perang Dunia Kedua: Akhir


Pada tanggal 6 Juni 1944 (D-Day) mendarat kekuatan invasi yang besar di pantai Normandia. Pasukan Sekutu dari Amerika, Kanada dan Inggris menaklukkan pantai Normandia.
Pertempuran dengan Jerman sangat sulit. Perlahan-lahan mereka menembus Jerman kembali dan setelah 3 bulan, Paris dibebaskan.

Dua front

Setelah pertempuran Stalingrad (1942-1943) Tentara Merah meraih satu kemenangan demi satu. Hitler sekarang terpaksa berjuang 2 front, baik di barat dan timur oleh tentara Jerman diserang. Selain itu, Jerman kota siang dan malam oleh pesawat sekutu dibom.

Menyerah

Pada bulan Januari 1945, tentara Rusia tiba dari timur, perbatasan Jerman pada bulan Maret dan menyerang Amerika dari barat, dalam Jerman. Pada April 30, 1945 bunuh diri Hitler berkomitmen di Berlin pada tanggal 8 Mei, Jerman menyerah. Setelah penyerahan Jerman Sekutu masih harus berurusan dengan Jepang.

Atom bom

Orang Jepang masih berjuang keras melawan pasukan AS. Untuk segera mengakhiri perang kepada Amerika menempatkan senjata terbaru mereka. Pada tanggal 6 dan 9 bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah. Perang Dunia II usai.

Sejarah Nagari Sungai Pua



Menghargai sejarah adalah suatu perilaku yang sangat dituntut manakala suatu daerah atau wilayah memiliki kemauan untuk menjadi daerah atau wilayah yang besar. Namun kesulitan demi kesulitan tidak dapat terelakkan untuk memastikan validitas suatu sejarah, akan tetapi dengan keterbatasan data dan fakta baik tertulis maupun lisan merupakan nilai yang sangat berharga ketika ditemukan dalam rangka menarik akar sejarah suatu daerah (seperti monografi nagari Sungai Pua yang ditulis oleh Anurlis Abbas pada tahun 1982 dan monografi desa yang ada di Sungai Pua), apalagi sejarah Sungai Pua yang konon sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang silam.
Suatu hal yang perlu digaris bawahi bahwa tekat serta keinginan yang kuat dari anak Nagari Sungai Pua untuk menampilkan sejarah Sungai Pua yang dilengkapi dengan suatu data, tanggal atau tahun bagi pengenalan sejarah serta asal-usul Minangkabau, Luhak nan Tigo, terutama tentang Nagari Sungai Pua.
Menurut cerita dari mulut kemulut, turun temurun di Mingkabau, kerajaan itu ditemukan oleh Iskandar Agung. Sesungguhnya kerajaan Melayu yang kemudian muncul dan sampai kini masih terdapat di bahagian Minangkabau, didirikan oleh pendatang Hindu pada abad ke 7 Masehi.
Nama Minangkabau pertama kali ditemukan pada sebuah catatan bertarich 1365 Masehi, diberikan sebagai nama daerah dan nagari yang pernah bertarung dengan kerajaan Majapahit.
Secara etimologi mengenai nama Minangkabau tercatat pada waktu dimana terjadinya kerajaan sedang mempertahankan kemerdekaannya. Sebagai peringatan atas kejadian ini-aduan anak kerbau yang sedang erat menyusu dengan kerbau jantan Majapahit, dimana matinya kerbau Majapahit itu – orang Melayu sebagai pemenang menamakan negerinya Minangkabau. Riwayat ini masih saja diterima secara bulat diantara rakyat, sedangkan kerbau adalah lambang bagi kesatuan bangsa.
Kata asal ini lebih disukai oleh orang Melayu, yang juga mengadakan pemindahan secara besar-besaran kesemenanjung tanah Malayo/Malaka, tetapi kemudian ada yang memasukkan bentuk patrilinial dalam system kekeluargaannya.
Nama Sungai Pua sendiri agaknya berasal dari Batang dan Pua, yakni kali yang kedua belah pinggirnya ditumbuhi sebangsa pohon, membelah kampung Lidah Api sampai ke Cingkaring. Kini kali tersebut dapat dilihat sebagai sungai mati. Sesungguhpun demikian curam dan lebarnya memberi bekas bagaimana derasnya arus air yang pernah mengaliri batang pua tersebut selagi masih berfungsi.
Inyiak Segeh juga mensinyalir dalam tulisannya bahwa lahar dari puncak gunung Marapi mengalir ke sebelah Utara menuju Barat membentuk sungai (Limo Kampuang, Ampuah dan terus ke Limo Suku). Di pinggir kiri kanan sepanjang lahar yang mengalir itu tumbuh batang pua yang tidak lebih dari 50 s/d 70 cm berwarna putih keungu-ungguan sehingga membentuk suatu pemandangan yang indah. Maka terbentuklah Sungai Pua.
Apabila nama, letak nagari Sungai Pua disenafaskan dengan Gunung MERAPI (2891 SM), maka sejarah, kaba, legenda, cerita mulut kemulut mencatat, bahwa asal-usul nenek moyang orang Minangkabau pada hakekatnya turun dari puncak Gunung Merapi ini. Bahkan orang-orang tua di Sungai Pua adalah yang dengan penuh kesungguhan hati lebih jauh mengaitkan asal-usul tersebut dengan Kapal Nabi Nuh as.
Menurut Ilyas Dt. Bandaro Rajo (90 tahun Piliang), di puncak gunung Merapi – dekat Talago – masih terdapat kuburan, yang dikenal sebagai Kuburan Panjang. Kecuali itu, senantiasa puncak gunung merapi dianggap keramat, terbukti puncak gunung tersebut menjadi sasaran akhir bagi mereka yang pergi “Batarak” (bertama-bersemedi), setelah melakukan hal yang sama di gunung Bunsu dan gunung Kerinci. Puncak tersebut sampai kini menjadi sebutan, ada puncak yang disebut dengan gunung Parpati, karena di puncak tersebut banyak didapati tulang-tulang dari burung merpati.
Konon ada 8 orang nenek moyang dulunya turun temurun pertama kali:
  1. Sultan Marajo Dirajo, beserta isterinya: Putih Indah Jeliah
  2. Suri (contoh teladan, penasehat) Dirajo Nan Banego-nego.
  3. Cateri Reno Sudah.
  4. Jati Bilang Pandai.
Beserta pembantu-pembantunya:
  1. Harimau Campo
  2. Kambiang Hitam
  3. Kuciang Siam
  4. Anjiang Mualim
Penduduk Sunga Pua hanyalah mendengar kisah-kisah ini, bahwa tempat penampungan adalah TANAH PADANG RANG KOTO.
Kemudian diaturlah pembagian sebagai berikut:
Tanah padang pembagian rang koto
Air pembagian rang pili
Tanjung pembagian rang pisang
Banda pembagian rang sikumbang
Guguak pembagian rang melayu. 
Galodo, lava, lahar yang sampai sekarang masih banyak bekasnya, berakhir di Lidah Api. Berkat keramat Inyiak Nan Balinduang yang menanamkan bareco, sebangsa pohon kayu besar, sampai sekarang masih hidup terpencil satu-satunya di tempat tersebut. Terhindarlah anak kemenakan beliau – orang Sungai Pua – dari bencana lava tersebut.
Turunnya Inyiak Nan Balindung adalah Tuangku Laras Sungai Pua, dikenal sebagai Sulaiman Dt. Tumanggung, meninggal tahun 1914, dikuburkan dipandam pekuburan asal: Tampaik, Sungai Pua. Beliau terkenal bijaksana, pandai berbicara dan sukar tandingannya diantara lareh-lareh di Luhak Nan Tigo, dan Luhak Agam sehingga menyebabkan sebuah pabrik korek api Swedia mempergunakan kemasyhuran tersebut sebagai cap/trade mark produksinya, yaitu dengan memasang foto Tuangku Laras Sungai Pua. Tentu saja barang dagangan tersebut menjadi laras lakunya.
Abdul Moeis, pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia, meninggal di Bandung, dr Ariffin, adalah anak dari Tuangku Laras ini. Perang Paderi, Perang Kamang, Perang Mangopoh, Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1950) tidak pernah absent diikuti oleh segenap rakyat Sungai Pua.
Suatu hal yang sangat perlu diketahui, bahwa di Kota Bandung (salah satu daerah parantauan bagi orang Sungai Pua) ada jalan dan terminal yang diberi nama Abdul Moeis dan Soedirman (Saudara Abdul Moeis, yang terkenal dengan piala Badminton Soedirman) yang dianggap sebagai pahlawan dan pejuang yang cukup banyak berjasa terhadap Negara Republik Indonesia di bidangnya masing-masing.  Berliau berdua adalah anak pusako urang Sungai Pua (anak Tuanku Larch) Soelaiman Dt. Tumangguang. Demikian yang ditulis oleh Inyiak Segeh dalam tulisannya.
“Adat adalah pakaian rang Sungai Pua”, begitu ungkapan dan kesimpulan masyarakat bukan Sungai Pua, apabila diperlukan sesuatu makna dalam pertikaian pengertian mengenai applied/penjabaran adat itu sendiri.
Pada tahun 1946 – bulan Juli – atas kehendak rakyatnya, dalam suatu rapat umum di lapangan Balai Panjang Sungai Pua, dinyatakan 2 (dua) kenagarian yaitu Kapalo Koto dan Tangah Koto, disatukan menjadi satu nagari: Sungai Pua seperti sekarang dengan jorong jorongnya: Limo Kampung, Kapalo Koto, Tangah Koto, Limo Suku dan Galuang.
Pada tahun 1909 mulailah pemuda Sungai Pua pergi belajar agama Islam di Padang Japang (50 Kota) yang dipimpin Oleh Sech Abbas Abdullah.
Kaum adat, agama dan cendikiawan Sungai Pua senantiasa memberi warna terhadap dinamik, kritik dan bersikap logis anak negerinya.
Buku Sungai Pua, Karangan D. P. Murad (89 halaman) ditulis oleh pemuda Sungai Pua sendiri, demikian juga buku Alam Minangkabau karangan Angku Ajunct (1951) dan buku perjuangan rakyat Sumatera Barat 1945-1950 mengaris bawahi, bahwa nagari Sungai Pua beserta putera-puterannya adalah peserta aktif dalam peranan mula, masa kritis dan penyelesaian perang kemerdekaan melenyapkan penjajah Belanda dari bumi Indonesia

Kamis, 14 Juni 2012

Djepang Meroesak Keamanan


Tiga Setengah Tahun Dalam Penjajahan Jepang


HINDIA BELANDA - Ribuan prajurit Jepang melompat dari kapal-kapal pendarat dan kemudian bergerak maju untuk menguasai ladang minyak di Balikpapan. Sementara itu setelah menguasai Hindia Belanda, seperti Pulau Jawa yang subur
HINDIA BELANDA - Ribuan prajurit Jepang melompat dari kapal-kapal pendarat dan kemudian bergerak maju untuk menguasai ladang minyak di Balikpapan. Sementara itu setelah menguasai Hindia Belanda, seperti Pulau Jawa yang subur
Pertaroengan diteloek Banten Menandoeng Sedjarah. Jedjadian ini tidak diloepakan oenteok selam-lamanja. Saat itoelah pada tg. 1 Maret 2602 Balatentara Dai Nippon mendarat dan menamatkan riwajat penindasan Belanda, Jang dimoelai oleh C.v Houtman pada tiga abad jang laloe. Rakjat menjamboet kedatangan Balatentara Nippon dengan gembira. Ternjata pendaratan hingga sekarang pendoedoek Banten-Sju bekerja giat bersama Balatentara.
Kutipan tersebut diambil dari majalah bergambar dua mingguan Djawa Baroe terbitan 1 Maret 2604 Showa atau 1944 Masehi, sebagai awal tulisan berjudul Kissah Pendaratan Balatentara Nippon Ditanah Djawa – Riwajat Belanda moelai dan tammat di Banten. Dalam tulisan ini, dikisahkan tentang daratan pasukan Jepang lainnya di Cretan dan Jawa Timur, hingga .ienyerahnya tentara Belanda. “…Dengan Tergesa-gesa Tjarda dan Ter Poorten lari e Kalidjati, hendak menemoei Panglima Balatentara Nippon. Maksoednja Menjatakan tidak tahan lagi berperang melawan Balatentara Nippon jang gagah berani itoe. Mereka hendak menjerah tidak memakai perdjandjian apa-apa. Balatentara Nippon melihat kedoea pahlawan Belanda ini merasa sangat kasihan dan menerima penjerahan nereka. Dengan perasaan sedih dan menjesal akan kekeliroean sendiri, maka Tjarda dan Ter Poorten keloear dari ,goeboek ketjil—tempat permoesiawaratan di Kalidjati dengan keinsafan, bahwa mereka terdieroemoes oleh Sekoetoenia, Inggeris-Amerika, jaitoe : “Memakloemkan perang pada Dai Nippon dengan tidak tahoe apa maksoednja !”
Sejak itulah Jepang berkuasa di Indonesia, salah satu negeri di Selatan atau Nanyo yang sudah lama diincarnya, baik karena kekayaan cumber alamnya maupun letaknya yang strategic dan menentukan untuk urat nadi perniagaan internasionalnya. Mengingat invasi Jepang terhadap Hindia Belanda dilakukan oleh kekuatan gabungan AL dan AD (Tentara ke-16) yang dipimpin Letjen Hitoshi Imamura, maka begitu seluruh wilayah ini berhasil didudukinya, langsung dibagi dalam dua kekuasaan. AL atau Kaigun menguasai Kalimantan dan semua wilayah Indonesia bagian timur, sementara Jawa Madura Berta Sumatra diserahkan kepada Rikugun atau AD.

Rabu, 13 Juni 2012

Mahisa Anabrang

 

 Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang atau Lembu Anabrang (lahir: ? – wafat: 1295) adalah nama seorang perwira Kerajaan Singhasari yang menjadi komandan Ekspedisi Pamalayu tahun 12751293.

Komandan Pamalayu

Pada tahun 1275 Kertanagara raja Singhasari, mengirimkan utusan untuk menjalin persahabatan dengan Kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Pengiriman utusan ini terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu. Baik Nagarakretagama ataupun Pararaton sama sekali tidak menyebutkan siapa nama utusan ekspedisi ini.
Kidung Panji Wijayakrama menyebutkan nama utusan Ekspedisi Pamalayu tersebut, yaitu Mahisa Anabrang, yang artinya ialah “kerbau yang menyeberang”. Terdapat kemungkinan bahwa ini bukan nama asli, atau pengarang kidung tersebut juga tidak mengetahui dengan pasti siapa nama asli sang komandan.
Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin Mahisa Anabrang memperoleh keberhasilan. Nagarakretagama mencatat Melayu masuk ke dalam daftar jajahan Singhasari selain Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura. Utusan Pamalayu kembali ke Jawa tahun 1293 dengan membawa dua orang putri bernama Dara Jingga dan Dara Petak, semula untuk dijodohkan dengan Kertanagara. Namun Kertanagara telah tewas setahun sebelumnya akibat pemberontakan Jayakatwang. Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya telah berhasil mengalahkan Jayakatwang dan mendirikan Kerajaan Majapahit, sehingga ia yang menerima perjodohan tersebut.

Gugur dalam tugas

Pada tahun 1295 terjadi pemberontakan pertama terhadap Kerajaan Majapahit yang dilakukan oleh adipati Tuban Ranggalawe. Peristiwa ini disinggung dalam Pararaton namun naskah ini tidak menyebutkan siapa tokoh yang berhasil membunuh Ranggalawe. Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menguraikan kisah kematian Ranggalawe dengan panjang lebar, serta menyebutkan bahwa yang berhasil membunuh adipati Tuban tersebut adalah Mahisa Anabrang.
Dikisahkan bahwa pasukan Majapahit dipimpin Nambi, Lembu Sora, dan Mahisa Anabrang berangkat untuk menumpas Ranggalawe. Perang terjadi di dekat Sungai Tambak Beras. Mahisa Anabrang bertarung melawan Ranggalawe di dalam sungai, yang dimenangkan oleh Mahisa Anabrang. Lembu Sora yang adalah paman Ranggalawe, tidak rela melihat keponakannya dibunuh. Ia lalu membunuh Mahisa Anabrang, rekannya sendiri, dari belakang. Tewasnya Ranggalawe mengakhiri perang saudara pertama dalam sejarah Majapahit.
Kidung Sorandaka mengisahkan keluarga Mahisa Anabrang tidak berani menuntut hukuman untuk Lembu Sora karena ia merupakan pembantu kesayangan Raden Wijaya. Baru pada tahun 1300 seorang putra Mahisa Anabrang bernama Mahisa Taruna mendapat bantuan seorang tokoh bernama Mahapati.[rujukan?] Mereka pun berhasil menyingkirkan Lembu Sora dari jajaran pemerintahan Majapahit. Peristiwa yang terjadi selanjutnya ialah pembunuhan Lembu Sora oleh pasukan Nambi akibat fitnah yang dilancarkan Mahapati.

Identifikasi dengan Adwayabrahma

Mahisa Anabrang kembali ke Jawa pada tahun 1293 dengan membawa dua orang putri Minangkabau bernama Dara Jingga dan Dara Petak. Menurut Pararaton, Raden Wijaya mengambil Dara Petak sebagai istri dan menyerahkan Dara Jingga kepada seorang “dewa” (sira alaki dewa), yang berarti seorang bangsawan. Dara Jingga kemudian melahirkan seorang putra bernama Tuhan Janaka yang kemudian menjadi raja Minangkabau bergelar Mantrolot Warmadewa. Beberapa sumber mengatakan bahwa ini adalah nama lain dari Adityawarman. Namun profesor Uli Kozok meyakini bahwa yang bergelar Warmadewa tersebut adalah Akarendrawarman, paman dari Adityawarman.
Nama ayah Adityawarman adalah Adwayawarman menurut prasasti Kuburajo atau Adwayadwaja menurut prasasti Bukit Gombak. Gelar yang hampir serupa ialah Dyah Adwayabrahma, juga terdapat dalam prasasti Padangroco, sebagai salah seorang pengawal arca Amoghapasa yang dibawa ke Sumatra tahun 1286. Tertulis dalam prasasti bahwa Adwayabrahma yang menjabat rakryan mahamantri, suatu jabatan tinggi bagi bangsawan kerabat raja. Demikianlah terdapat anggapan bahwa tokoh Adwayabrahma ini adalah tokoh yang sama dengan Mahisa Anabrang utusan Pamalayu. Namun demikian dugaan bahwa utusan Pamalayu adalah sama dengan pemimpin rombongan Amoghapasa masih memerlukan bukti tambahan yang memperkuatnya.

Identifikasi dengan Indrawarman

Menurut sumber dari Batak[rujukan?], nama komandan pasukan Singhasari yang dikirim untuk menaklukkan Sumatra adalah Indrawarman. Tokoh ini kemudian menolak mengakui kedaulatan Majapahit sebagai kelanjutan Singhasari. Indrawarman kemudian mendirikan Kerajaan Silo di Simalungun.
Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit dipimpin Adityawarman dalam rangka pelaksanaan Sumpah Palapa. Adityawarman sebagai wakil raja Majapahit berhasil menaklukkan Silo. Indrawarman diberitakan tewas oleh serangan tersebut. Menurut legenda, Indrawarman tidak pernah kembali ke Jawa, sehingga sulit untuk menyamakannya dengan tokoh Mahisa Anabrang yang kembali ke Jawa tahun 1293.

Kamis, 07 Juni 2012

Tokoh Minangkabau


A.A. Navis sumber : http://batunanlimo.blogspot.com/

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawanterkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami.

Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Navis telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.



Agus Salim

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.



Yahya Dt. Kayo

Dia diberi nama Yahya. Mengapa diberi nama oleh keluarganya yang kebetulan nama itu mengingatkan kita akan nama nabi-nabi. Kita tidak tahu. Cobalah renungkan nama-nama dua mamaknya yang terdahulu, Ibrahim dan Ismail. Dua-duanya jadi laras di IV Koto, Agam Tua. Sedangkan mamaknya yang gagal jadi Laras, namanya Lanjadin Katib Besar1, bukan bernama seperti nama nabi. Sewaktu dia lahir, baru dua tahun Jabatan Laras disandang oleh Tuanku Janaid St Dinegeri. Apakah memang nama Yahya telah di persiapkan agar jadi Laras? Walluhualam. Dia adalah putera sejati, artinya bapak dan ibunya orang Koto Gadang, yang di lahirkan di tengah-tengah kampung Koto Gadang pada 1 Augustus 1874, 10 tahun lebih dahulu dari kelahiran Haji Agus Salim. Ibunya bernama Bani, dan Bapaknya bernama Pinggir dari pesukuan Sikumbang. Di masa kecilnya telah dididik agar dianya sangat cinta kepada negerinya Koto Gadang, segala sesuatunya diperhatikannya dan di selidikinya benar-benar.