Tampilkan postingan dengan label jurnalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

Ada Pesan Berantai Ajak Bubarkan KPK

Tribunnews.com - Minggu, 7 Oktober 2012 07:19 WIB
Ada Pesan Berantai Ajak Bubarkan KPK
Tribun Jakarta/Bian Harnansa (bian)
Sejumlah Aktivis melakukan aksi penyelamatan KPK di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (6/10/2012) Kehadiran para Aktivis merupakan reakasi dari datangnya sejumlah anggota Propam Polda Bengkulu Ke KPK untuk menjemput penyidik KPK Novel Baswedan. (Tribun Jakarta/Bian Harnansa)

Laporan Reporter Tribun Jogja, Iwan Al Khasni
TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian tampaknya tak hanya terjadi melalui adu argumen di media massa saja. Kini, pesan berantai berisi ajakan untuk membubarkan KPK beredar di masyarakat.
Seperti yang diterima Tribun Jogja, Sabtu (6/10/2012) sekitar pukul 23.40 WIB. Satu pesan diterima melalui BlackBerry Messenger. Beginilah, bunyi pesan ajakan untuk membubarkan KPK:
Tugas pokok KPK bukan hanya melakukan penindakan terhadap pelaku korupsi namun ada pula tugas supervisi serta pencegahan. Namun demikian hari ini KPK hanya fokus pada upaya penindakan dan mengesampingkan tugas supervisi dan pencegahan....
KPK harus dipahami bahwa sifatnya adalah lembaga AD Hoc (tidak permanen, kapanpun jika dianggap perlu dapat dibubarkan) namun demikian, KPK diberikan kewenangan begitu besar dan didukung dengan dana melimpah, akibatnya kemudian KPK menjadi lembaga superbody apatah lagi KPK menjadi satu2nya lembaga yg tidak terawasi....
Kini ketika salah seorang penyidik KPK (Kompol Novel Baswedan, S.IK) akan ditangkap oleh Polda Bengkulu karena melakukan tindak pidana, masyarakat kemudian digiring untuk berpikir bahwa KPK dikriminalisasi. Hal tersebut dilakukan secara sistematis oleh LSM dan mereka yang mengaku penggiat anti korupsi sehingga stigma di masyarakat yang muncul adalah Polri berlaku sewenang-wenang dan KPK menjadi lembaga yang teraniaya....
Yang terjadi sebenarnya adalah Kompol Novel melakukan penganiayaan delapan tahun silam, tetapi baru kemudian tgl 4 Oktober 2012 korban penganiayaan dimaksud melakukan operasi pengeluaran peluru dari tubuhnya dan dilanjutkan keluarga korban datang mengadukan perbuatan Kompol Novel tersebut ke Polda Bengkulu yang disusul oleh upaya Polda Bengkulu mendatangi Kompol Novel guna dijemput paksa ut menjalani proses hukum....
Mestinya masyarakat mendukung apa yang dilakukan oleh Polri, bahwa semua masyarakat dinegri ini diperlakukan sama didepan hukum, termasuk Kompol Novel.....
Saya secara pribadi amat menyayangkan upaya masif yang dilakukan oleh KPK berikut LSM dan tokoh2 atau penggiat anti korupsi yang membelokkan substansi hukum menjadi isu kriminalisasi KPK....
Saya pikir sudah saatnya KPK dibubarkan serta memperkuat Polri dan Kejaksaan sebagai sebuah lembaga penegak hukum yg kehadirannya diatur oleh Undang-Undang.  
SEBARKAN jika Anda berpikir sama !!!. (*)


Selasa, 25 September 2012

Kawan Lama - Akhirnya Metro TV Mengaku Salah


Fathiya Mumtazah Hari ini telah diadakan mediasi terkait acara “Metro Hari Ini” pada 15 September 2012 yang menayangkan dialog ‘Awas, Generasi Baru Teroris‘. Acara yang mengakibatkan lebih dari 29.000 pengaduan masuk ke KPI ini akhirnya ditindak lanjuti dengan mediasi yang dihadiri oleh perwakilan Metro TV , MUI, Forum Silahturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK), Ikatan Rohis Se-Jabodetabek (IROJA) dan Indonesia Media Watch. Mediasi yang pada awalnya dilakukan secara terbuka dan mengundang beberapa wartawan dari media lain secara mendadak dilakukan secara tertutup. beberapa wartawan yang membawa undangan terpaksa diminta keluar kecuali wartawan Metro TV yang masih diperbolehkan mengikuti jalannya mediasi. Berikut adalah beberapa poin hasil pertemuan mediasi: 1. Metro TV dengan NYATA, mengaku SALAH. Metro TV meminta maaf atas pemberitaan yang tidak berimbang dan menyudutkan ROHIS. Kesalahannya termasuk ke dalam simplifikasi hasil penelitian Prof. Bambang yg terwujud dalam grafis. 2. Metro TV akan membuat acara utk klarifikasi dan liputan profil ROHIS. MetroTV berjanji, dalam seminggu ini, sudah ada program tayangnya. Pihak Metro TV akan membuat penayangan program dalam bentuk talkshow, mengundang perwakilan ROHIS. 3. Metro TV akan mengangkat kegiatan-kegiatan ROHIS guna menghapus stigmatisasi karena kesalahan pemberitaan ROHIS 4. Sudah dijadikan MOU, antara KPI dan MUI,,untuk setiap acara yg menyangkut Islam, diseleksi sebelum tayang Sampai saat ini pun sms aduan masih mengalir ke KPI, bukti bahwa pemberitaan itu benar-benar telah menyinggung seluruh elemen umat muslim, terutama para anggota dan alumni rohis yang jelas-jelas mengakui bahwa rohis telah banyak menghasilkan anggota dan alumni berprestasi yang siap terjun memberikan perubahan baik di masyarakat. Mari kita tunggu pemenuhan janji dari Metro TV untuk menayangkan klarifikasi dan membersihkan nama baik rohis yang sangat jauh dari aksi terorisme..

Minggu, 10 Juni 2012

Kawan Lama - Menelusuri Jejak Rohana Kudus



Rohana Kudus, sebuah nama yang saya kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada tahun 2008 lalu. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan di nagari itu. Sebelum itu, tak sekalipun saya pernah mendengar namanya. Seingat saya, saya tidak pernah membaca sejarah hidupnya di buku-buku pelajaran Sejarah sejak saya SD dulu. Entah saya yang kurang tahu karena masih sedikit membaca atau memang namanya tidak tertulis di buku-buku pelajaran Sejarah.
Yang pasti, perkenalan dengannya melalui referensi yang saya dapat di dunia maya, mengungkapkan sosoknya yang ternyata luar biasa. Siapa sangka, ternyata ia juga adalah sosok Kartini yang lahir dan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan, di tanah kelahirannya, Koto Gadang. Ia lahir di sana pada tanggal 20 Desember 1884, 5 tahun setelah Kartini lahir di Jepara. Bisa dikatakan, Rohana dan Kartini adalah pejuang hak-hak perempuan Indonesia di masanya, di tanah yang berbeda.
Rohana adalah putri pertama pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Nama besarnya ternyata sering disandingkan dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia, yang juga merupakan adik tirinya. Ia pun adalah sepupu dari H. Agus Salim, seorang jurnalis dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di masa pemerintahan Orde Lama, dan juga dipanggil dengan sebutan Mak Tuo (Bibi) oleh penyair terkenal Chairil Anwar, sang ”binatang jalang”. Sungguh sebuah kekerabatan dari beberapa nama besar yang senantiasa tertoreh dalam sejarah politik dan sastra Indonesia.
Kiprahnya sendiri sebagai seorang pejuang hak-hak perempuan untuk mendapatkan kesetaraan pendidikan dengan laki-laki, sudah dimulai sejak ia berusia sangat muda, saat ia mengajarkan teman-teman kecilnya membaca pada usia 8 tahun. Kemampuan baca tulis itu ia peroleh tanpa melalui pendidikan formal. Sejak kecil, ia rajin belajar pada Ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantornya.
Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan Ayahnya. Ia belajar banyak hal selain membaca dan menulis; bahasa Belanda, abjad Arab, Latin, Arab-Melayu, dan juga belajar hal-hal keputrian seperti menyulam, menjahit, merenda, dan merajut, yang dipelajarinya dari istri pejabat Belanda atasan Ayahnya, saat Ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang. Dari berteman baik dengan istri pejabat Belanda itu pula ia banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai hal tentang politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa, yang sangat digemari Rohana.
Nama ”Kudus” yang disandangnya adalah nama belakang sang suami, Abdul Kudus, yang menikahinya pada saat ia berusia 24 tahun. Ketika itu ia sudah kembali ke kampung halamannya di Koto Gadang dan berniat mewujudkan cita-citanya untuk membebaskan kaum perempuan terutama dari diskriminasi perolehan kesempatan pendidikan, dengan mendirikan sebuah sekolah keterampilan khusus perempuan. Sekolah itu bernama Sekolah Kerajinan Amai Setia, yang didirikannya pada tanggal 11 Februari 1911. Di sekolah ini ia mengajarkan banyak hal seperti, membaca, menulis, keterampilan mengelola keuangan, budi pekerti, pendidikan agama, bahasa Belanda, sampai keterampilan menjahit, menyulam, membordir, dan merenda, yang hasil kerajinannya ini diekspor ke Eropa. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.
Usahanya ini bukan tanpa kendala. Ia banyak mengalami rintangan berupa benturan sosial dengan para pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang. Sebagaimana lazimnya kisah seorang perintis dan pendobrak sistem, adat istiadat yang sudah kuat mengakar, tak jarang ia juga harus menelan fitnahan dari orang-orang yang menentang segala caranya untuk memajukan kaum perempuan. Namun segala macam rintangan itu justru menjadikannya semakin kuat, tegar, dan yakin akan apa yang tengah diperjuangkannya.
Selain mengajar dan fasih berbahasa Belanda, Rohana juga gemar menulis puisi dan artikel. Tak terlihat bahwa ia sebenarnya tak berpendidikan tinggi. Tutur katanya mencerminkan kecerdasan dan keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di kampungnya. Nama dan kiprahnya pun menjadi pembicaraan hangat di kalangan kaum kolonial. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka Belanda dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.
Pada akhirnya Rohana pun berbagi cerita dan cita-cita tentang perjuangannya tersebut dengan menerbitkan surat kabar perempuan pertama di Indonesia pada tanggal 10 Juli 1912, yang diberi nama ”Sunting Melayu”. Dinamakan surat kabar perempuan pertama karena pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya, semua adalah perempuan. Surat kabar ini tidak hanya membahas masalah wanita, tetapi juga masalah politik dan kriminal yang terjadi di ranah Minang.
Selang beberapa waktu kemudian, ia pun pindah ke Bukit Tinggi. Di sini, ia mendirikan ”Rohana School”, yang terkenal sampai ke daerah lain di luar Bukit Tinggi. Tak heran, banyak murid yang bersekolah di sini. Hal ini disebabkan nama Rohana sudah cukup populer karena hasil karyanya yang bermutu dan eksistensinya sebagai pemimpin redaksi ”Sunting Melayu” tak diragukan lagi. Ia pun ditawari menjadi pengajar di sekolah Dharma Putra, yang muridnya tidak hanya perempuan. Selain karena kepopulerannya, tawaran mengajar ini juga dikarenakan kemampuannya dalam menguasai bidang agama, bahasa Belanda, politik, sastra, dan jurnalistik serta kepiawaiannya dalam hal kerajinan tangan.
Ia juga sempat merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana ia mengajar dan memimpin surat kabar ”Perempuan Bergerak”. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar ”Radio”, yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar ”Cahaya Sumatera”. Kiprahnya tak hanya di bidang pendidikan. Berbekal kemampuan jurnalistiknya, ia pun turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi. Ia juga memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan, dan ia pula yang mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukit Tinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Sabtu, 09 Juni 2012

Jam Gadang


Tabloid Pantau - http://www.tabloid.web.id/
majalah - http://wartawan.info/_a.php?_a=majalah&info1=1   
tabloid Prioritas - http://www.prioritasnews.com/2012/06/05/hipokrit/
SNMPTN 2012  - http://www.ptn-online.com/pengumuman-snmptn-2012/
wahyudi blog - http://viruspintar.blogspot.com


                                                     

Nasehat buat keponakan    

Anak kanduang sibiran tulang 
Buah hati ayah djo Bundo
Ubek Jariah  palarai damam
Sidingin sampai dikapalo

Nan kanduang kamanakan mamak
Rangkaian hati urang sakoto
Mamak batutua cubolah simak
Dangakan mamak bacarito

Kok indak salah mamak mahetong
Diagak agak sampai kini
Tatkalo kamanakan kadibaduang
Mamak maliek partamo kali

Ayah badoa pado nankuaso
Bundo bakahandak pado illahi
Kok layie anak nan dicito
Ka pangganti badan diri
Diwarih nan kabajawek
Dipusako nan kabatolong
Indak dibilang jariah  jo panek
Lamo jo maso indak dihetong

Lah layie anak laki-laki
Umpamo ameh jo parmato
Ibaraik cincin taikek dijari
Ka panyongsong tamu nan tibo

Katungkek pamaniah jalan
Ka karih pamaga adat
Panjago warih katurunan
Ka pambela dunia akhirat

Tanak labu ditaratak di hari pagi
Dakek  ampang mananam ubi
Anak bungsu nan indak baradiak lai
Capeklah gadang bundo harok kamananti

Kawan Lama - Partai Nasdem Modali Calegnya Rp 5-10 M



Elvan Dany Sutrisno - detikNews
 Jakarta Partai Nasional Demokrat (Nasdem) memang tak main-main menghadapi Pemilu 2014. Partai Nasdem memodali calegnya antara Rp 5-10 miliar untuk memastikan kemenangan di Pemilu 2014.

"Angkanya tergantung dari dapilnya. Kalau dapilnya kecil tentu tidak besar. Tapi kisarannya ya antara Rp 5-10 miliar lah," kata Ketua Umum Partai Nasdem, Patrice Rio Capella, kepada detikcom, Sabtu (9/6/2012).

Rio menuturkan, Partai Nasdem tak ingin calegnya bermain saat terpilih menjadi anggota DPR kelak. Karena itu Partai Nasdem memilih memodali calegnya, meskipun angkanya jelas tidak sedikit.

"Latar belakangnya kita tidak ingin de javu seperti dulu lagi dimana caleg disuruh perang sendiri di dapilnya. Minimal mereka akan hitung berapa pengeluarannya kemudian menjadi politik transaksional," kata Rio.

Diharapkan kelak anggota DPR dari Nasdem dapat memperjuangkan aspirasi rakyat dengan lebih tulus. Karena mereka tak mengeluarkan modal sendiri untuk menghadapi pemilu legislatif.

"Harapannya ketika caleg-caleg Nasdem terpilih nanti mereka akan fokus memeprjuangkan kepentingan rakyat secara luas tanpa ternoda, itu yang melatarbelakangi kami untuk membiayai mereka yang punya kemampuan, kapabilitas, agar mereka punya bekal bekerja di dapilnya," tandasnya.

(van/ndr)

Kamis, 07 Juni 2012

Tokoh Minangkabau


A.A. Navis sumber : http://batunanlimo.blogspot.com/

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawanterkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami.

Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Navis telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.



Agus Salim

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.



Yahya Dt. Kayo

Dia diberi nama Yahya. Mengapa diberi nama oleh keluarganya yang kebetulan nama itu mengingatkan kita akan nama nabi-nabi. Kita tidak tahu. Cobalah renungkan nama-nama dua mamaknya yang terdahulu, Ibrahim dan Ismail. Dua-duanya jadi laras di IV Koto, Agam Tua. Sedangkan mamaknya yang gagal jadi Laras, namanya Lanjadin Katib Besar1, bukan bernama seperti nama nabi. Sewaktu dia lahir, baru dua tahun Jabatan Laras disandang oleh Tuanku Janaid St Dinegeri. Apakah memang nama Yahya telah di persiapkan agar jadi Laras? Walluhualam. Dia adalah putera sejati, artinya bapak dan ibunya orang Koto Gadang, yang di lahirkan di tengah-tengah kampung Koto Gadang pada 1 Augustus 1874, 10 tahun lebih dahulu dari kelahiran Haji Agus Salim. Ibunya bernama Bani, dan Bapaknya bernama Pinggir dari pesukuan Sikumbang. Di masa kecilnya telah dididik agar dianya sangat cinta kepada negerinya Koto Gadang, segala sesuatunya diperhatikannya dan di selidikinya benar-benar.



Senin, 28 Mei 2012

Interview with Sarah Wilson

Webinar Registration

In this free hour long webinar Darren Rowse (ProBlogger.net) will interview Australian media personality, journalist and blogger - Sarah Wilson.

Sarah is an Australian media personality, journalist and blogger with an integrated voice across television, radio, magazines, newspapers and online. She’s the former editor of Cosmopolitan magazine and was the host of the first series of MasterChef Australia, the highest rating show in Australian TV history.

The last year or two has seen Sarah shift some of her attention away from soley focusing upon mainstream media to focus more of her time upon Blogging at SarahWilson.com.au which has has had hundreds of thousands of views and tens of thousands of subscribers to her newsletter.

Sarah has also recently authored the best selling 'I Quit Sugar' eBook/Program which has helped 30 000 people quit the sweet stuff.  In more recent times she has also released the I Quit Sugar eCookbook.


In this interview Darren will be asking Sarah about:

• how she writes and markets eBooks so successfully
• what she's learned in the transition from mainstream media to blogging
• what bloggers need to know from her experience as a journalist and columnist in mainstream media
• her content creation/blogging strategy
• monetization blogs through advertising
• social media and how bloggers can use it to grow their blogs

Webinar attendees will also have the opportunity to ask Sarah questions and hear her thoughts on other aspects of blogging.

For international attendees here are the times for this Webinar:

US Pacific Time - 5pm Tuesday 29th May
US Eastern - 8pm Tuesday 29th May
London - 1am Wednesday 30th May
Singapore - 8am Wednesday 30th May
Eastern Australian - 10am Wednesday 30th May