Tampilkan postingan dengan label jam gadang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jam gadang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Sejarah Nagari Sungai Pua



Menghargai sejarah adalah suatu perilaku yang sangat dituntut manakala suatu daerah atau wilayah memiliki kemauan untuk menjadi daerah atau wilayah yang besar. Namun kesulitan demi kesulitan tidak dapat terelakkan untuk memastikan validitas suatu sejarah, akan tetapi dengan keterbatasan data dan fakta baik tertulis maupun lisan merupakan nilai yang sangat berharga ketika ditemukan dalam rangka menarik akar sejarah suatu daerah (seperti monografi nagari Sungai Pua yang ditulis oleh Anurlis Abbas pada tahun 1982 dan monografi desa yang ada di Sungai Pua), apalagi sejarah Sungai Pua yang konon sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang silam.
Suatu hal yang perlu digaris bawahi bahwa tekat serta keinginan yang kuat dari anak Nagari Sungai Pua untuk menampilkan sejarah Sungai Pua yang dilengkapi dengan suatu data, tanggal atau tahun bagi pengenalan sejarah serta asal-usul Minangkabau, Luhak nan Tigo, terutama tentang Nagari Sungai Pua.
Menurut cerita dari mulut kemulut, turun temurun di Mingkabau, kerajaan itu ditemukan oleh Iskandar Agung. Sesungguhnya kerajaan Melayu yang kemudian muncul dan sampai kini masih terdapat di bahagian Minangkabau, didirikan oleh pendatang Hindu pada abad ke 7 Masehi.
Nama Minangkabau pertama kali ditemukan pada sebuah catatan bertarich 1365 Masehi, diberikan sebagai nama daerah dan nagari yang pernah bertarung dengan kerajaan Majapahit.
Secara etimologi mengenai nama Minangkabau tercatat pada waktu dimana terjadinya kerajaan sedang mempertahankan kemerdekaannya. Sebagai peringatan atas kejadian ini-aduan anak kerbau yang sedang erat menyusu dengan kerbau jantan Majapahit, dimana matinya kerbau Majapahit itu – orang Melayu sebagai pemenang menamakan negerinya Minangkabau. Riwayat ini masih saja diterima secara bulat diantara rakyat, sedangkan kerbau adalah lambang bagi kesatuan bangsa.
Kata asal ini lebih disukai oleh orang Melayu, yang juga mengadakan pemindahan secara besar-besaran kesemenanjung tanah Malayo/Malaka, tetapi kemudian ada yang memasukkan bentuk patrilinial dalam system kekeluargaannya.
Nama Sungai Pua sendiri agaknya berasal dari Batang dan Pua, yakni kali yang kedua belah pinggirnya ditumbuhi sebangsa pohon, membelah kampung Lidah Api sampai ke Cingkaring. Kini kali tersebut dapat dilihat sebagai sungai mati. Sesungguhpun demikian curam dan lebarnya memberi bekas bagaimana derasnya arus air yang pernah mengaliri batang pua tersebut selagi masih berfungsi.
Inyiak Segeh juga mensinyalir dalam tulisannya bahwa lahar dari puncak gunung Marapi mengalir ke sebelah Utara menuju Barat membentuk sungai (Limo Kampuang, Ampuah dan terus ke Limo Suku). Di pinggir kiri kanan sepanjang lahar yang mengalir itu tumbuh batang pua yang tidak lebih dari 50 s/d 70 cm berwarna putih keungu-ungguan sehingga membentuk suatu pemandangan yang indah. Maka terbentuklah Sungai Pua.
Apabila nama, letak nagari Sungai Pua disenafaskan dengan Gunung MERAPI (2891 SM), maka sejarah, kaba, legenda, cerita mulut kemulut mencatat, bahwa asal-usul nenek moyang orang Minangkabau pada hakekatnya turun dari puncak Gunung Merapi ini. Bahkan orang-orang tua di Sungai Pua adalah yang dengan penuh kesungguhan hati lebih jauh mengaitkan asal-usul tersebut dengan Kapal Nabi Nuh as.
Menurut Ilyas Dt. Bandaro Rajo (90 tahun Piliang), di puncak gunung Merapi – dekat Talago – masih terdapat kuburan, yang dikenal sebagai Kuburan Panjang. Kecuali itu, senantiasa puncak gunung merapi dianggap keramat, terbukti puncak gunung tersebut menjadi sasaran akhir bagi mereka yang pergi “Batarak” (bertama-bersemedi), setelah melakukan hal yang sama di gunung Bunsu dan gunung Kerinci. Puncak tersebut sampai kini menjadi sebutan, ada puncak yang disebut dengan gunung Parpati, karena di puncak tersebut banyak didapati tulang-tulang dari burung merpati.
Konon ada 8 orang nenek moyang dulunya turun temurun pertama kali:
  1. Sultan Marajo Dirajo, beserta isterinya: Putih Indah Jeliah
  2. Suri (contoh teladan, penasehat) Dirajo Nan Banego-nego.
  3. Cateri Reno Sudah.
  4. Jati Bilang Pandai.
Beserta pembantu-pembantunya:
  1. Harimau Campo
  2. Kambiang Hitam
  3. Kuciang Siam
  4. Anjiang Mualim
Penduduk Sunga Pua hanyalah mendengar kisah-kisah ini, bahwa tempat penampungan adalah TANAH PADANG RANG KOTO.
Kemudian diaturlah pembagian sebagai berikut:
Tanah padang pembagian rang koto
Air pembagian rang pili
Tanjung pembagian rang pisang
Banda pembagian rang sikumbang
Guguak pembagian rang melayu. 
Galodo, lava, lahar yang sampai sekarang masih banyak bekasnya, berakhir di Lidah Api. Berkat keramat Inyiak Nan Balinduang yang menanamkan bareco, sebangsa pohon kayu besar, sampai sekarang masih hidup terpencil satu-satunya di tempat tersebut. Terhindarlah anak kemenakan beliau – orang Sungai Pua – dari bencana lava tersebut.
Turunnya Inyiak Nan Balindung adalah Tuangku Laras Sungai Pua, dikenal sebagai Sulaiman Dt. Tumanggung, meninggal tahun 1914, dikuburkan dipandam pekuburan asal: Tampaik, Sungai Pua. Beliau terkenal bijaksana, pandai berbicara dan sukar tandingannya diantara lareh-lareh di Luhak Nan Tigo, dan Luhak Agam sehingga menyebabkan sebuah pabrik korek api Swedia mempergunakan kemasyhuran tersebut sebagai cap/trade mark produksinya, yaitu dengan memasang foto Tuangku Laras Sungai Pua. Tentu saja barang dagangan tersebut menjadi laras lakunya.
Abdul Moeis, pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia, meninggal di Bandung, dr Ariffin, adalah anak dari Tuangku Laras ini. Perang Paderi, Perang Kamang, Perang Mangopoh, Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1950) tidak pernah absent diikuti oleh segenap rakyat Sungai Pua.
Suatu hal yang sangat perlu diketahui, bahwa di Kota Bandung (salah satu daerah parantauan bagi orang Sungai Pua) ada jalan dan terminal yang diberi nama Abdul Moeis dan Soedirman (Saudara Abdul Moeis, yang terkenal dengan piala Badminton Soedirman) yang dianggap sebagai pahlawan dan pejuang yang cukup banyak berjasa terhadap Negara Republik Indonesia di bidangnya masing-masing.  Berliau berdua adalah anak pusako urang Sungai Pua (anak Tuanku Larch) Soelaiman Dt. Tumangguang. Demikian yang ditulis oleh Inyiak Segeh dalam tulisannya.
“Adat adalah pakaian rang Sungai Pua”, begitu ungkapan dan kesimpulan masyarakat bukan Sungai Pua, apabila diperlukan sesuatu makna dalam pertikaian pengertian mengenai applied/penjabaran adat itu sendiri.
Pada tahun 1946 – bulan Juli – atas kehendak rakyatnya, dalam suatu rapat umum di lapangan Balai Panjang Sungai Pua, dinyatakan 2 (dua) kenagarian yaitu Kapalo Koto dan Tangah Koto, disatukan menjadi satu nagari: Sungai Pua seperti sekarang dengan jorong jorongnya: Limo Kampung, Kapalo Koto, Tangah Koto, Limo Suku dan Galuang.
Pada tahun 1909 mulailah pemuda Sungai Pua pergi belajar agama Islam di Padang Japang (50 Kota) yang dipimpin Oleh Sech Abbas Abdullah.
Kaum adat, agama dan cendikiawan Sungai Pua senantiasa memberi warna terhadap dinamik, kritik dan bersikap logis anak negerinya.
Buku Sungai Pua, Karangan D. P. Murad (89 halaman) ditulis oleh pemuda Sungai Pua sendiri, demikian juga buku Alam Minangkabau karangan Angku Ajunct (1951) dan buku perjuangan rakyat Sumatera Barat 1945-1950 mengaris bawahi, bahwa nagari Sungai Pua beserta putera-puterannya adalah peserta aktif dalam peranan mula, masa kritis dan penyelesaian perang kemerdekaan melenyapkan penjajah Belanda dari bumi Indonesia

Minggu, 10 Juni 2012

Kawan Lama - Menelusuri Jejak Rohana Kudus



Rohana Kudus, sebuah nama yang saya kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada tahun 2008 lalu. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan di nagari itu. Sebelum itu, tak sekalipun saya pernah mendengar namanya. Seingat saya, saya tidak pernah membaca sejarah hidupnya di buku-buku pelajaran Sejarah sejak saya SD dulu. Entah saya yang kurang tahu karena masih sedikit membaca atau memang namanya tidak tertulis di buku-buku pelajaran Sejarah.
Yang pasti, perkenalan dengannya melalui referensi yang saya dapat di dunia maya, mengungkapkan sosoknya yang ternyata luar biasa. Siapa sangka, ternyata ia juga adalah sosok Kartini yang lahir dan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan, di tanah kelahirannya, Koto Gadang. Ia lahir di sana pada tanggal 20 Desember 1884, 5 tahun setelah Kartini lahir di Jepara. Bisa dikatakan, Rohana dan Kartini adalah pejuang hak-hak perempuan Indonesia di masanya, di tanah yang berbeda.
Rohana adalah putri pertama pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Nama besarnya ternyata sering disandingkan dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia, yang juga merupakan adik tirinya. Ia pun adalah sepupu dari H. Agus Salim, seorang jurnalis dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di masa pemerintahan Orde Lama, dan juga dipanggil dengan sebutan Mak Tuo (Bibi) oleh penyair terkenal Chairil Anwar, sang ”binatang jalang”. Sungguh sebuah kekerabatan dari beberapa nama besar yang senantiasa tertoreh dalam sejarah politik dan sastra Indonesia.
Kiprahnya sendiri sebagai seorang pejuang hak-hak perempuan untuk mendapatkan kesetaraan pendidikan dengan laki-laki, sudah dimulai sejak ia berusia sangat muda, saat ia mengajarkan teman-teman kecilnya membaca pada usia 8 tahun. Kemampuan baca tulis itu ia peroleh tanpa melalui pendidikan formal. Sejak kecil, ia rajin belajar pada Ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantornya.
Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan Ayahnya. Ia belajar banyak hal selain membaca dan menulis; bahasa Belanda, abjad Arab, Latin, Arab-Melayu, dan juga belajar hal-hal keputrian seperti menyulam, menjahit, merenda, dan merajut, yang dipelajarinya dari istri pejabat Belanda atasan Ayahnya, saat Ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang. Dari berteman baik dengan istri pejabat Belanda itu pula ia banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai hal tentang politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa, yang sangat digemari Rohana.
Nama ”Kudus” yang disandangnya adalah nama belakang sang suami, Abdul Kudus, yang menikahinya pada saat ia berusia 24 tahun. Ketika itu ia sudah kembali ke kampung halamannya di Koto Gadang dan berniat mewujudkan cita-citanya untuk membebaskan kaum perempuan terutama dari diskriminasi perolehan kesempatan pendidikan, dengan mendirikan sebuah sekolah keterampilan khusus perempuan. Sekolah itu bernama Sekolah Kerajinan Amai Setia, yang didirikannya pada tanggal 11 Februari 1911. Di sekolah ini ia mengajarkan banyak hal seperti, membaca, menulis, keterampilan mengelola keuangan, budi pekerti, pendidikan agama, bahasa Belanda, sampai keterampilan menjahit, menyulam, membordir, dan merenda, yang hasil kerajinannya ini diekspor ke Eropa. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.
Usahanya ini bukan tanpa kendala. Ia banyak mengalami rintangan berupa benturan sosial dengan para pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang. Sebagaimana lazimnya kisah seorang perintis dan pendobrak sistem, adat istiadat yang sudah kuat mengakar, tak jarang ia juga harus menelan fitnahan dari orang-orang yang menentang segala caranya untuk memajukan kaum perempuan. Namun segala macam rintangan itu justru menjadikannya semakin kuat, tegar, dan yakin akan apa yang tengah diperjuangkannya.
Selain mengajar dan fasih berbahasa Belanda, Rohana juga gemar menulis puisi dan artikel. Tak terlihat bahwa ia sebenarnya tak berpendidikan tinggi. Tutur katanya mencerminkan kecerdasan dan keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di kampungnya. Nama dan kiprahnya pun menjadi pembicaraan hangat di kalangan kaum kolonial. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka Belanda dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.
Pada akhirnya Rohana pun berbagi cerita dan cita-cita tentang perjuangannya tersebut dengan menerbitkan surat kabar perempuan pertama di Indonesia pada tanggal 10 Juli 1912, yang diberi nama ”Sunting Melayu”. Dinamakan surat kabar perempuan pertama karena pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya, semua adalah perempuan. Surat kabar ini tidak hanya membahas masalah wanita, tetapi juga masalah politik dan kriminal yang terjadi di ranah Minang.
Selang beberapa waktu kemudian, ia pun pindah ke Bukit Tinggi. Di sini, ia mendirikan ”Rohana School”, yang terkenal sampai ke daerah lain di luar Bukit Tinggi. Tak heran, banyak murid yang bersekolah di sini. Hal ini disebabkan nama Rohana sudah cukup populer karena hasil karyanya yang bermutu dan eksistensinya sebagai pemimpin redaksi ”Sunting Melayu” tak diragukan lagi. Ia pun ditawari menjadi pengajar di sekolah Dharma Putra, yang muridnya tidak hanya perempuan. Selain karena kepopulerannya, tawaran mengajar ini juga dikarenakan kemampuannya dalam menguasai bidang agama, bahasa Belanda, politik, sastra, dan jurnalistik serta kepiawaiannya dalam hal kerajinan tangan.
Ia juga sempat merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana ia mengajar dan memimpin surat kabar ”Perempuan Bergerak”. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar ”Radio”, yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar ”Cahaya Sumatera”. Kiprahnya tak hanya di bidang pendidikan. Berbekal kemampuan jurnalistiknya, ia pun turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi. Ia juga memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan, dan ia pula yang mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukit Tinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Rabu, 06 Juni 2012

MENYISIRI SEJARAH DI BENTENG FORT DE KOCK


Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 13 Maret 2011 01:19
PADANG, HALUAN — Perjalanan wisata ke Kota Bukittinggi memang akan memberikan sesuatu yang beragam.
Iklimnya yang sejuk karena berada di dataran tinggi, sekitar 930 meter dari permukaan laut membuat anda akan merasa rileks di Kota ini. Kota yang berjarak kurang lebih 90 Km dari pusat Kota Padang terse­but ternyata banyak memiliki bangunan kuno bersejarah, yang merupakan peninggalan dari masa penjajahan Belanda di Indonesia. Salah satunya ialah Fort de Kock
Belanda saat menduduki Kota Bukittinggi. Nama Fort de Kock sendiri, ternyata adalah nama lama dari Bukit­tinggi. Benteng ini dibangun pada masa Perang Paderi, sekitar tahun 1825 oleh Kapt. Bauer. Bangunan kokoh yang itu dibangun di atas Bukit Jirek, dan awalnya diberi nama Sterrenschans. Lalu, tak lama namanya berubah menjadi Fort de Kock, oleh Hendrik Merkus de Kock, yang merupakan salah satu tokoh militer Belanda.
Usai membangun benteng tersebut, beberapa tahun kemu­dian di sekitar benteng ini berkembang sebuah kota yang juga diberi nama Fort de Kock. Dan kini berubah nama menjadi Bukittinggi.
Semasa pemerintahan Be­lan­da, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat peme­rintahan, kota ini disebut sebagai Gemetelyk Resort pada tahun 1828. Sejak tahun 1825 pemerintah koloial Belan­da telah mendirikan sebuah benteng di kota ini sebagai tempat pertahanan, yang hingga kini para wisatawan dapat melihat langsung benteng tersebut yaitu Fort de Kock. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat peme­rintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya.
Fort de Kock juga diba­ngun sebagai lambang bahwa Kolonial Belanda telah berhasil menduduki daerah di Sumatera Barat. Benteng tersebut meru­pakan tanda penjajahan dan perluasan kekuasaan Belanda terhadap Bukittinggi, Agam, dan Pasaman. Belanda memang cerdik untuk menduduki Su­ma­tera Barat, mereka meman­faatkan konflik intern saat itu, yaitu konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda sendiri ikut membantu kelompok adat, guna menekan kelompok aga­ma selama Perang Paderi yang berlangsung 1821 hingga tahun 1837.
Belanda yang membantu kaum adat melahirkan sebuah kesepakatan bahwa Belanda diperbolehkan membangun basis pertahan militer yang dibangun Kaptain Bauer di puncak Bukit Jirek Hill, yang kemudian diberi nama Fort de Kock.
Setelah membangun di Bukit Jirek, Pemerintah Kolo­nial Belanda pun melanjutkan rencananyamengambil alih beberapa bukit lagi seperti Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malam­bung. Di daerah tersebut juga dibangun gedung perkantoran, rumah dinas pemerintah, kom­pleks pemakaman, pasar, sarana transportasi, sekolah juga tempat rekreasi. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial Belanda tersebut dalam istilah Minangkabau dikenal dengan “tajua nagari ka Bulando” yang berarti Terjual negeri pada Belanda. Di masa itu memang, Kolonial Belanda menguasai 75 persen  wilayah dari lima desa yang dijadikan pusat perdagangan.
Sejak direnovasi pada tahun 2002 lalu oleh pemerintah daerah, Fort de Kock, kawasan benteng kini menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park). Disini anda tak hanya disajikan pemandangan alam, anda bersa­ma kelaurag juga menemui beberapa satwa burung yang menjadi koleksi di taman ini.
Setelah mengetahui banyak hal tentang catatan sejarah mengenai Fort de Kock ada baiknya anda santai sejenak di kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, yang lokasinya satu kompleks de­ngan benteng peninggalan Belanda tersebut. Selain itu di kompleks Kebun Binatang tersebut juga terdapat Museum Rumah Adat Baanjuang. Anda tak perlu bingung saat mema­suki kawasan itu, benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk. Sedangkan kebun binatang dan museum berben­tuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan.
Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya kota Bukittinggi. Kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi yaitu kawa­san Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.
Dari atas jembatan anda dapat menikmati pemandangan pegunungan dan ngarai yang ada di sekitar kawasan tersebut seperti Ngarai Sianok, Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gung Sago dan Gunung Tan­dikek.(dodo/pa­da­ng­me­dia.com)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                                                   http://thearoengbinangproject.com