Tampilkan postingan dengan label harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harapan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Maret 2013
Kamis, 07 Juni 2012
Tokoh Minangkabau
A.A. Navis sumber : http://batunanlimo.blogspot.com/

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawanterkemuka
di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan
menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah
cerita pendek Robohnya Surau Kami.
Dunia
sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Navis telah
lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum
meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada
Kongres Budaya Padang
bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan
surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai
Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi
tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari,
Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika
Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU)
Tunggul Hitam, Padang.
Agus Salim

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.
Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri.
Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja
di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika
di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau
Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam
dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.
Yahya Dt. Kayo

Dia
diberi nama Yahya. Mengapa diberi nama oleh keluarganya yang kebetulan
nama itu mengingatkan kita akan nama nabi-nabi. Kita tidak tahu.
Cobalah renungkan nama-nama dua mamaknya yang terdahulu, Ibrahim dan
Ismail. Dua-duanya jadi laras di IV Koto, Agam Tua. Sedangkan mamaknya
yang gagal jadi Laras, namanya Lanjadin Katib Besar1, bukan bernama
seperti nama nabi. Sewaktu dia lahir, baru dua tahun Jabatan Laras
disandang oleh Tuanku Janaid St Dinegeri. Apakah memang nama Yahya
telah di persiapkan agar jadi Laras? Walluhualam. Dia adalah putera
sejati, artinya bapak dan ibunya orang Koto Gadang, yang di lahirkan di
tengah-tengah kampung Koto Gadang pada 1 Augustus 1874, 10 tahun lebih
dahulu dari kelahiran Haji Agus Salim. Ibunya bernama Bani, dan
Bapaknya bernama Pinggir dari pesukuan Sikumbang. Di masa kecilnya
telah dididik agar dianya sangat cinta kepada negerinya Koto Gadang,
segala sesuatunya diperhatikannya dan di selidikinya benar-benar.
Rabu, 06 Juni 2012
Ayam Gadang’ Minangkabau (Minang Saisuak )
‘TIOK LASUANG BAAYAM GADANG’, begitu bunyi satu ungkapan Minangkabau lama. Dalam konteks ini, maksudnya adalah bahwa setiap etnis melahirkan beberapa orang yang kesohor di tingkat nasional maupun internasional. Dan Minangkabau jangan ditanya lagi tentang itu. Mengenai hal itu Jeffrey Hadler dalam bukunya Muslim and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism (2008) menulis: “Peta jalan kota mana pun di Indonesia pastilah berisi jalan-jalan raya dengan nama Haji Agus Salim (lahir 1884), negarawan dan menteri luar negeri; Mohammad Hatta (lahir 1902), wakil presiden pertama; Muhammad Yamin (lahir 1903), filsuf nasionalis; Muhammad Natsir (lahir 1908), politikus Islam; Hamka (lahir 1908), ulama; Sutan Sjahrir (lahir 1909), sosialis dan perdana menteri pertama; Rasuna Said (lahir 1910), pemimpin revolusioner dan politikus; dan, bila sensor Soeharto lalai, Tan Malaka (lahir 1896), filsuf revolusioner komunis. Rakyat Minangkabau sangat bangga akan pemimpin-pemimpin generasi pertama ini beserta sejumlah besar politikus, ulama, dan cerdik cendekia Minangkabau yang kurang terkenal tapi yang juga punya peran penting dalam sejarah Indonesia.” Orang Minangkabau, yang pada tahun 1930-an hanya berjumlah 3.36 persen (sekitar satu juta jiwa) dari total penduduk Hindia Belanda, begitu mendominasi sejarah nasional. Mereka memainkan peran utama dalam pergerakan nasionalis dan pergerakan Islam, dan merekalah pemberi warna dunia sastra dan budaya Indonesia.
Dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini, pembaca Singgalang Minggu kami suguhi foto tiga orang ‘ayam gadang’ Minangkabau, benih-benih terbaik dari ranah matrilineal terbesar di dunia ini, yang telah berjasa besar terhadap Republik Indonesia. Mereka adalah (dari kanan ke kiri): Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Muhammad Hatta. Sedangkan Amir Sjarifuddin (pakai dasi), yang berdiri paling kiri, berdarah Batak (lihat: Jacques Leclerc, Amir Sjarifuddin; Antara Negara dan Revolusi, 1996). Cukup unik bahwa ketiga ‘ayam gadang’ Minangkabau itu sama-sama memakai jas panjang ala Eropa. Mungkin Bukittinggi pada waktu itu cukup sejuk seperti suhu pada musim gugur di Eropa.
Konteks historis foto ini adalah tahun 1948, waktu Belanda melakukan aksi polisionil terhadap Republik Indonesia yang masih bayi. Pada tanggal 9 Januari 1948 Sutan Sjahrir (penasihat Presiden Soekarno) tiba kembali di Jakarta setelah mengunjungi sejumlah negara selama enam bulan. Bersama Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri) dan Amir Sjarifuddin (Perdana Menteri) ia berangkat ke Bukittinggi (ibukota Republik Indonesia di Sumatra). Di sana mereka bertiga berjumpa dengan Muhammad Hatta yang telah berkeliling Sumatra dan berkunjung ke India. Amir Sjarifuddin berkunjung ke Sumatra Barat untuk menjemput Wakil Presiden Muhammad Hatta karena ia memerlukan dukungan Hatta untuk merampungkan persetujuan Renville yang sedang dalam perundingan.
H. Agus Salim, Hatta dan Sjahrir, tiga putra Minangkabau terbaik, dikenang karena kesederhanaan mereka. Sejarah telah mencatat bahwa mereka tak ragu-ragu meninggalkan kekuasaan bila gerak gerik kekuasaan itu sendiri sudah tidak sesuai lagi dengan hati nurani mereka. Mereka tak lena oleh uang berkebat, apalagi yang berbentuk ‘komisi’ ini dan itu yang diserahkan dalam bentuk amplop yang disuruk-surukkan. Mereka adalah teladan dan ‘cermin terus’ yang dilupakan oleh kebanyakan politikus negeri ini sekarang. Duhai, di manakah orang-orang seperti mereka dapat dicari dalam ranah politik Indonesia kini, yang sudah ‘kelam’ oleh celaga korupsi dan makin carut-marut tak berkeruncingan.
Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: H Rosihan Anwar, Sutan Sjahrir; Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, 1909-1966. Jakarta & Leiden: Kompas & KITLV Press, 2010: 110).
Singgalang, Minggu, 5 Desember 2010
MENYISIRI SEJARAH DI BENTENG FORT DE KOCK
| Ditulis oleh Teguh |
| Minggu, 13 Maret 2011 01:19 |
PADANG, HALUAN — Perjalanan wisata ke Kota Bukittinggi memang akan memberikan sesuatu yang beragam.Iklimnya yang sejuk karena berada di dataran tinggi, sekitar 930 meter dari permukaan laut membuat anda akan merasa rileks di Kota ini. Kota yang berjarak kurang lebih 90 Km dari pusat Kota Padang tersebut ternyata banyak memiliki bangunan kuno bersejarah, yang merupakan peninggalan dari masa penjajahan Belanda di Indonesia. Salah satunya ialah Fort de Kock Belanda saat menduduki Kota Bukittinggi. Nama Fort de Kock sendiri, ternyata adalah nama lama dari Bukittinggi. Benteng ini dibangun pada masa Perang Paderi, sekitar tahun 1825 oleh Kapt. Bauer. Bangunan kokoh yang itu dibangun di atas Bukit Jirek, dan awalnya diberi nama Sterrenschans. Lalu, tak lama namanya berubah menjadi Fort de Kock, oleh Hendrik Merkus de Kock, yang merupakan salah satu tokoh militer Belanda. Usai membangun benteng tersebut, beberapa tahun kemudian di sekitar benteng ini berkembang sebuah kota yang juga diberi nama Fort de Kock. Dan kini berubah nama menjadi Bukittinggi. Semasa pemerintahan Belanda, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat pemerintahan, kota ini disebut sebagai Gemetelyk Resort pada tahun 1828. Sejak tahun 1825 pemerintah koloial Belanda telah mendirikan sebuah benteng di kota ini sebagai tempat pertahanan, yang hingga kini para wisatawan dapat melihat langsung benteng tersebut yaitu Fort de Kock. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Fort de Kock juga dibangun sebagai lambang bahwa Kolonial Belanda telah berhasil menduduki daerah di Sumatera Barat. Benteng tersebut merupakan tanda penjajahan dan perluasan kekuasaan Belanda terhadap Bukittinggi, Agam, dan Pasaman. Belanda memang cerdik untuk menduduki Sumatera Barat, mereka memanfaatkan konflik intern saat itu, yaitu konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda sendiri ikut membantu kelompok adat, guna menekan kelompok agama selama Perang Paderi yang berlangsung 1821 hingga tahun 1837. Belanda yang membantu kaum adat melahirkan sebuah kesepakatan bahwa Belanda diperbolehkan membangun basis pertahan militer yang dibangun Kaptain Bauer di puncak Bukit Jirek Hill, yang kemudian diberi nama Fort de Kock. Setelah membangun di Bukit Jirek, Pemerintah Kolonial Belanda pun melanjutkan rencananyamengambil alih beberapa bukit lagi seperti Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malambung. Di daerah tersebut juga dibangun gedung perkantoran, rumah dinas pemerintah, kompleks pemakaman, pasar, sarana transportasi, sekolah juga tempat rekreasi. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial Belanda tersebut dalam istilah Minangkabau dikenal dengan “tajua nagari ka Bulando” yang berarti Terjual negeri pada Belanda. Di masa itu memang, Kolonial Belanda menguasai 75 persen wilayah dari lima desa yang dijadikan pusat perdagangan. Sejak direnovasi pada tahun 2002 lalu oleh pemerintah daerah, Fort de Kock, kawasan benteng kini menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park). Disini anda tak hanya disajikan pemandangan alam, anda bersama kelaurag juga menemui beberapa satwa burung yang menjadi koleksi di taman ini. Setelah mengetahui banyak hal tentang catatan sejarah mengenai Fort de Kock ada baiknya anda santai sejenak di kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, yang lokasinya satu kompleks dengan benteng peninggalan Belanda tersebut. Selain itu di kompleks Kebun Binatang tersebut juga terdapat Museum Rumah Adat Baanjuang. Anda tak perlu bingung saat memasuki kawasan itu, benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk. Sedangkan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan. Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya kota Bukittinggi. Kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi yaitu kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh. Dari atas jembatan anda dapat menikmati pemandangan pegunungan dan ngarai yang ada di sekitar kawasan tersebut seperti Ngarai Sianok, Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gung Sago dan Gunung Tandikek.(dodo/padangmedia.com)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
|
Kamis, 24 Mei 2012
Selasa, 22 Mei 2012
Senin, 21 Mei 2012
Sabtu, 21 April 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

PADANG, HALUAN — Perjalanan wisata ke Kota Bukittinggi memang akan memberikan sesuatu yang beragam.






