Tampilkan postingan dengan label Bapak Bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bapak Bangsa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juli 2012

Bukan Sembarang Syahbandar

 Sumber: Claude Guillot, Banten,Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII & http://www.china-mike.com. Ilustrasi: Micha Rainer Pali
OLEH: MF. MUKTHI
BANTEN, 1670-an. Sebuah junk besar asal Tiongkok mendarat di pelabuhan dengan membawa 10 ton emas, benang, sutra, uang kepeng, dan produk-produk mewah lainnya. Junk itu merupakan bagian dari rombongan junk besar milik “raja kapal” asal Tiongkok, Koxinga atau Guo Xing-ye. Dia adalah konglomerat Tiongkok pendukung Dinasti Ming yang lari ke Taiwan dan mendirikan basis bagi simpatisan anti-Dinasti Qing.
Orang-orang Belanda, yang mendukung Dinasti Qing setelah menggulingkan Dinasti Ming, memusuhi Koxinga. Namun junk Koxinga bisa mendarat lantaran pembelaan Kaytsu, syahbandar dan orang kepercayaan Sultan Ageng Tirtayasa, dan jaminan dari Kyai Ngabehi Cakradana (Tantseko), mantan bawahan Kaytsu.
Sultan Ageng Tirtayasa sendiri yang mengangkatnya jadi syahbandar karena percaya akan kecerdikan dan loyalitasnya. Dan yang terpenting, Kaytsu sudah Muslim. “Tampaknya perpindahan agama sudah menjadi persyaratan yang diperlukan untuk orang Banten keturunan asing untuk menjadi pejabat administratif,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. Sultan memberinya gelar “Kyai Ngabehi”.
Cerdik dalam berdiplomasi, luwes dalam bergaul, teguh menjaga kepercayaan, serta punya jaringan luas membuat karier Kaytsu cepat menanjak. “Kaytsu yang cerdik dan berpikiran jauh ke depan serta diandalkan sepenuhnya oleh raja saat itu, Sultan Ageng, tampaknya hanya memiliki satu tujuan dalam hidupnya, yaitu memulihkan perdagangan internasional di Banten,” tulis Guillot.  
Untuk memuluskan cita-citanya, Kaytsu meyakinkan sultan pentingnya Banten memiliki armada niaga dan terlibat dalam perdagangan internasional guna memajukan perekonomian kerajaan. Armada niaga dibutuhkan untuk mendatangkan komoditas dari berbagai tempat untuk guna di Banten yang pada akhirnya menarik pedagang asing.

Bung Hatta


When talking about Indonesia’s Independence, the name of Indonesian hero Mohammed Hatta always comes to mind. Bung Hatta, as he is referred to by his fellow Indonesians, has contributed massively to Indonesian’s Independence, especially in the unification of the Indonesian nation.
Bung Hatta was born 100 years ago during a colonial crisis in Indonesia and hence started his work as a staunch advocate of Indonesian independence at a very age. Aside from being a very noted individual of the nation, Bung Hatta also believed in the Holy Allah and is known as one of the most faithful Muslims in Indonesia.
350 long years of colonial rule in Indonesia came to an end as a result of Bung Hatta’s belief in freedom and devotion to Indonesia, its people and its independence. Thus, the Mayer Mint – Germany pays tribute to this beloved man of Indonesia by unveiling the new Bung Hatta commemorative coin under the World Famous Father of the Nation Series.