Rabu, 08 Agustus 2012

Kawan Lama - Elektabilitas Partai Nasdem Terus Meningkat


Metrotvnews.com, Jakarta: Partai Nasional Demokrat dan tokoh-tokoh yang di dalamnya, ternyata dapat melampui beberapa partai politik besar di indonesia.

Tingginya tingkat elektabilitas dan popularitas Partai Nasdem dari survei yang dilakukan lembaga survei trust Indonesia. Berdasarkan hasil survey lembaga survey trust indonesia,

Partai Nasdem yang masih baru dalam kancah politik di Indonesia, kini menduduki posisi nomor 7 di bawah Partai Golkar, Partai Demokrat, PDI Perjuangan, PBB, dan Gerindtra dan PDI, PKB dan Gerindra.

Sementara itu, Partai PAN, PPP, Hanura dan PKNU.dua-duanya berada di bawah Partai Nasdem.

Lembaga survey mengambil sample responden berusia 20 hingga 49 tahun di beberapa wilayah Indonesia. Haslnya, dari data yang diperoleh dapat di pertanggungjawabkan. Lembaga ini memperkirakan tingkat elektabilitas dan kepopuleran Partai Nasdem akan meningkat lagi menjelang pemilu 2014.

Yang lebih mengejutkan, suara Partai Demokrat akan berpindah ke Partai Dasdem karena partai nasdem memiliki visi dan misi serupa dengan partai demokrat, yang tingkat elektabilitas dan kepopulerannya semakin menurun karena maraknya korupsi yang dilakukan kadernya.(RZY)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Bima Arya Sugiarto, Dari Anti Partai Sampai Masuk Partai

Rofans Manao
Bima Arya Sugiarto semakin lama semakin naik daun. Terakhir beliau dengan hebat menghakimi PKS lantaran partai tersebut membangkang keputusan Satgab dalam paripurna BBM. Dengan lantangnya beliau menyebut PKS telah melanggar kontrak koalisi selama 4 kali. Beliau sendiri masuk PAN tahun 2010. Sumber di sini. Sumber tersebut menyatakan bahwa Mas Bima sudah lama bekerja sama dengan PAN dengan kapasitas konsultan profesional sebelum resmi masuk partai.
Latar belakang Mas Bima sendiri sangatlah mumpuni. Beliau Doktor Ilmu Politik lulusan Australia. Sewaktu masih S1 di Bandung sampain S3 di Australia, tetap aktif dalam kegiatan mahasiswa. Bukan itu saja setelah jadi Doktor, beliau dipercaya memimpin dua lembaga Think Tank ngetop. Lead Institute di Universitas Paramadina dan Charta Politika, salah satu konsultan politik SBY-Boediono 2009.
Dengan latar belakang demikianlah, tanggal 10 Februari 2010 beliau resmi jadi anggota PAN.
Tentu tidak masalah kalau orang mau masuk partai. Itu hak asasi yang bersangkutan.
Tapi dalam kasus Mas Bima ini ada sedikit yang spesial. Beliau sendiri punya pemikiran yang unik terhadap dunia politik di Indonesia. Sebagian pemikiran beliau tertuang di blog beliau http://bimaaryasugiarto.blogspot.com/.
Sebagian ini pemikiran beliau (saya kutip langsung tanpa editan):
  • Pilkada langsung awalnya diyakini akan mengikis habis praktik oligarki elit partai yang sangat kuat di sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

  • Namun pada kenyataannya, pilkada langsung ternyata malahan memunculkan sejumlah persoalan-persoalan yang sangat problematik.

  • Fenomena ini terjadi karena pada pilkada langsung, faktor popularitas individu menjadi lebih penting ketimbang faktor partai pendukung.

  • Hal lain yang sangat mencolok adalah adanya praktik ”jual beli” tiket partai kepada kandidat. Pengurus partai yang memiliki posisi struktural yang strategis kemudian menjadi ’bandar politik’ dan bermain mata dengan para pemodal.

  • Dengan demikian, harapan bahwa pilkada langsung akan mengikis praktik oligarki partai menjadi pupus.

  • Secara realitas, kandidat tidak mungkin untuk mencukupi pembiayaan pencalonannya seorang diri. Biasanya ia akan mengumpulkan dana dari berbagai pihak sponsor dengan konsesi-konsesi politik-ekonomi yang akan disepakati kemudian.

  • Besar kemungkinan pihak pemodal kemudian akan menjadi pemerintah bayangan dengan ikut menentukan secara informal kebijakan dari kepala daerah terpilih.
Intinya ialah Mas Bima mengkritik metode rekrutment partai yang sepertinya sudah dikomersialisasi/dibiniskan.
Sebagian pemikiran beliau yang lain (juga tanpa editan):
  • Politisi dengan latarbelakang pengusaha kini memenuhi struktur kepengurusan partai.

  • Jumlah prosentasi penguasaha pada PAN dan PDI-P relatif sama dengan prosentasi peningkatan yang terbesar ada pada PAN.

  • Meningkatnya jumlah politisi-pengusaha ini merupakan konsekuensi logis dari sistem demokrasi liberal yang kini diadopsi di Indonesia.

  • Ketua umum PAN Soetrisno Bachir secara gamblang bahkan menyatakan bahwa jika saja 10% dari anggota DPP partai berasal dari pengusaha, maka biaya pengelolaan partai otomatis akan tertutup (Sugiarto 2005).
Nah yang di atas ini sepertinya hasil penelitian beliau sehingga mampu menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang pertama tadi.
Bukan cuma di blog, Mas Bima rupanya juga sudah menerbitkan sebuah buku yang mengkaji hal ini.
1333765374706662978
Judul yang cukup jelas menunjukkan apa isi bukunya.
Dengan pemikiran-pemikiran seperti ini, tentu Mas Bima punya alasan yang kuat untuk akhirnya memutuskan masuk partai. Tentu menarik ditunggu seperti apa kelanjutan karir politik beliau.

Kawan Lama - Bergabung dengan Intrepid, Surya Paloh Hadapi Lawan Tangguh (1)

Helena Tan
Surya Paloh
Surya Paloh
Kehadiran Surya Paloh sebagai salah satu pemegang saham Intrepid kemungkinan  akan membawanya berhadapan dengan lawan tangguh: Edwin Soeryadjaya.
JAKARTA, Jaringnews.com - Keputusan Surya Paloh menjadi salah satu pemegang saham perusahaan pertambangan Australia, Intrepid Mining Limited, telah menjadi pemberitaan luas dua hari ini. Dalam siaran pers yang dilansir beberapa hari lalu, Intrepid mengatakan telah menyepakati pengalokasian 27,68 juta lembar saham biasa atau sekitar lima persen dari total saham perusahaan itu kepada taipan pemilik kelompok bisnis media terkemuka di Tanah Air itu.

Para pengamat bisnis menengarai masuknya Surya Paloh ke perusahaan itu tidak semata karena pertimbangan bisnis biasa. Intrepid diketahui tengah menghadapi masalah dengan mitra lokalnya, PT Indo Multi Niaga (IMN), perusahaan yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi dan IUP Operasi atas proyek pertambangan Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur. IUP itu dikeluarkan bupati setempat untuk lahan seluas 11.621,45 hektar. Tambang Tujuh Bukit disebut-sebut merupakan sebuah pertambangan emas kelas dunia, mempunyai kandungan emas dua kali tambang emas Newmont di Nusa Tengara Timur.

Dua pekan lalu mitra lokalnya itu menyita proyek pertambangan itu tanpa pejelasan. Penyitaan ini  terjadi menyusul adanya perubahan kepemilikan perusahaan lokal itu yang disebut-sebut berlangsung secara misterius. Menurut Radio Australia, pemilik saham baru PT IMN mengambil-alih mayoritas saham IMN dan tiba-tiba datang ke Tujuh Bukit dengan helicopter beberapa pekan lalu. Menurut keterangan CEO Intrepid, para pemegang saham baru itu datang ke lokasi dan menutup operasi, memulangkan 660 orang yang bekerja di sana.

Para pengamat berpendapat, diundangnya Surya Paloh ke jajaran pemegang saham Intrepid, didorong oleh tujuan untuk  memanfaatkan pengaruh mantan Ketua Dewan Penasihat Golkar itu terutama untuk menyelesaikan masalah yang kini mereka hadapi. Dan, kehadiran Surya Paloh di Intrepid tampaknya bukan muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, seorang kepercayaan Surya, yakni Adrianto Machribie yang juga mantan CEO Freeport Indonesia, telah bergabung dalam dewan direksi Intrepid pada November 2011. Machribie sebelumnya pernah menjadi CEO Metro TV.

Pertanyaannya, siapa lawan tangguh yang harus dihadapi oleh Intrepid, sehingga harus mengundang kehadiran Surya Paloh? Siapa tokoh di belakang PT IMN, mitra lokal Intrepid yang kini jadi seterunya?

Menurut penelusuran Intrepid, salah satu pemegang saham baru PT IMN mempunyai keterkaitan dengan perusahaan yang masih berhubungan dengan kelompok bisnis keluarga Soeryadjaya. Sebagaimana diketahui, keluarga Soeryadjaya yang dimotori oleh Edwin Soeryadjaya adalah pemegang saham mayoritas pada Adaro Energy, salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di Tanah Air.

Nah, bila ini benar, kehadiran Surya Paloh di Intrepid akan membawanya berhadapan dengan lawan tangguh: Edwin Soeryadjaya.
(Hal / Nky)

Rabu, 01 Agustus 2012

Kawan Lama - Nasdem Mulai Pecati Kader


  Rabu, 1 Agustus                         Arfi Bambani Amri, Bobby Andalan (Bali)
VIVAnews - Dewan Pimpinan Daerah Partai Nasdem Bali bergolak. Kader potensial yang juga Ketua Garda Wanita (Garnita) Malahayati NasDem Bali, Putu Suprapti Santy Sastra, dipecat dari keanggotaan. Sebelumnya, aktivis perempuan itu didepak dari kursi Ketua DPD Partai NasDem Kota Denpasar.

Pemberhentian Santy dibenarkan Sekretaris DPW Partai NasDem Bali, Ida Bagus Adi Saputra. Menurut Adi Saputra, pemberhentian Santy Sastra berdasarkan hasil evaluasi serta melalui rapat dan diskusi yang matang.

Evaluasi yang dilakukan DPW Partai NasDem Bali tersebut, kata dia, telah dikonsultasikan dengan Dewan Pembina Partai NasDem Bali. "Jadi dengan demikian, pemberhentian Ibu Santy dari Ketua Garnita Malahayati Nasdem Bali sudah sah. Itu sudah melalui mekanisme yang benar," ujar Adi Saputra, Selasa 31 Juli 2012 malam.

Ia menjelaskan, setelah menonaktifkan Santy Sastra, telah ditunjuk Luciana Ayu Sukmawati sebagai Ketua DPW Garnita Malahayati NasDem Bali. "Ibu Luci bersama kepengurusannya telah dilantik oleh Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella, pada 27 Juli 2012," ujar Adi Saputra.

Ia membantah keras sinyalemen yang menyebutkan bahwa penonaktifan Santy Sastra dilakukan tanpa melalui mekanisme, apalagi disebut penuh rekayasa serta intrik politik. "Tidak ada rekayasa, apalagi ada intrik politik untuk mendepak Ibu Santy. Semua sudah dilakukan sesuai mekanisme yang benar dalam organisasi," katanya. (sj)

Kemahiran menulis

Buka Bersama