Jumat, 18 Mei 2012
Rabu, 16 Mei 2012
Pemberontak dari Alam Permai Minangkabau
Zulhasril Nasir
Guru Besar Komunikasi UI dan penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau (Ombak, 2007)
Guru Besar Komunikasi UI dan penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau (Ombak, 2007)
BERDIRI di tempat tinggi, menadahkan kedua tangannya,
Roger Tol, peneliti dari lembaga Belanda KITLV, berseru, ”Mengapa di
tempat yang indah dan subur ini lahir seorang pemberontak?” Harry Poeze,
sejarawan peneliti Tan Malaka yang tegak di sampingnya, hanya membisu.
Adegan itu terjadi di Pandan Gadang, tempat lahir
Ibrahim Datuk Tan Malaka, 32 kilometer dari Payakumbuh, Sumatera Barat.
Kedua peneliti itu baru usai meresmikan ”Rumah Tan Malaka: Museum dan
Pustaka”, pada 22 Februari 2008. Nagari Pandan Gadang tersuruk di Bukit
Barisan, di antara lempit bukit dan sawah hijau membentang, kicau burung
berlompatan di buah-buah ranum.
Nagari memberikan kemerdekaan kepada penduduknya
untuk menjadi siapa saja. Tiada lapisan sosial. Yang ada hanya fungsi
sosial. Pemimpin hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.
Lelaki dan perempuan bicara dalam adat yang sama. Tan Malaka beruntung
menjadi anak seorang pegawai pertanian Hindia Belanda, selangkah lebih
maju dari warga lain.
Kesempatan yang diperoleh di Sekolah Rajo,
Bukittinggi, tidak lepas dari kecerdasan sebagaimana yang dikatakan guru
Belandanya, Horensma, di sekolah guru (Kweekschool) itu, ”Rambutnya
hitam-biru yang bagus sekali, bermata hitam kelam seolah-olah
memancarkan sesuatu.” Berkat gurunya ini juga Tan Malaka kemudian
sekolah ke Negeri Belanda, di usia 17 tahun. Di negeri penjajah itu, Tan
Malaka menyerap ideologi yang menjadi titik perjuangannya sampai akhir
hayat.
Nagari tidak tunduk kepada pemerintah pusat. Nagari
diatur oleh tiga tungku sejarangan: kepala adat, ulama, dan cerdik
pandai. Segala aspek pemerintahan Nagari, persoalan dan kemajuan
masyarakat, diselesaikan melalui musyawarah oleh ketiga unsur tadi di
balairung. Kedaulatan rakyat terwujud pada pemerintahan Nagari.
Pemerintahan pusat (Raja) tidak memiliki kewenangan
ikut campur. Masing-masing Nagari mempunyai kedaulatan yang sama, tanpa
hubungan struktural. Ketika Tan Malaka kesulitan uang di Negeri Belanda,
sanak-kaumnyalah yang berpatungan mengirimkan dana (Angkoefonds). Tan
Malaka menganggapnya sebagai utang, bukan sumbangan.
Tan Malaka mendahului sekolah ke Negeri Belanda
daripada Hatta, Nazir Datuk Pamuncak, Sjahrir, Abdul Rivai, Asaat,
Ibrahim Taher, Zaharin Zain, Abdul Muis, dan Abdul Rivai. Negeri
Belandalah, sebenarnya, yang membentuk wataknya: membaca, belajar, dan
menderita. Dia menutupi kekurangan uang dengan mengajar bahasa Melayu,
sambil berusaha menyelesaikan sekolah, dan berjuang melawan sakit
bronkitis, yang bermula hanya karena tidak memiliki baju hangat pada
musim dingin.
Alam Minangkabau yang subur permai dan bebas tidaklah
lengkap membekali anak negerinya tanpa mengaji dan pencak silat.
Mengaji dan silat adalah pembentuk kepribadian dan kepercayaan diri: tak
kayu jenjang dikeping; musuh indak dicari bersua pantang dielakkan;
induk cari dunsanak cari, induk semang cari dahulu.
Suatu ketika Tan Malaka mencalonkan diri untuk Tweede
Kamer (parlemen) Belanda mewakili negeri jajahan. Orang sekarang
mungkin tidak dapat membayangkan, dalam keadaan serba terbatas Tan
Malaka melanglang buana membentuk dan membangun ideologi dalam
perjalanan panjang dari Negeri Belanda, Jerman, Rusia, kemudian naik
kereta api Trans-Siberia melalui gurun es hingga Wladiwostok di Timur,
terus bolak-balik ke Amoy, Shanghai, Manila, Kanton, Bangkok, Singapura,
Semenanjung Malaya, dan Burma.
Di kota-kota itu, sembari membangun kekuatan
antipenjajahan, ia melahirkan percikan pemikiran melalui buku, brosur,
di antara bayang-bayang intelijen Inggris, Amerika, dan Belanda. Sepuluh
tahun pada akhir kehidupannya benar-benar dia sumbangkan untuk tanah
air, membangun kekuatan perlawanan rakyat melawan Jepang dan Belanda,
meskipun berakhir di ujung peluru bangsa yang diperjuangkannya. Bukankah
itu suatu kedigdayaan yang tidak dimiliki oleh semua orang?
Tan Malaka bukan seorang dogmatis sebagaimana
Stalinis. Dia berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa
kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme,
Tan Malaka membantahnya. Baginya, kesatuan Islam tidaklah harus berada
di Asia Barat saja, Pan-Islamisme haruslah dibangun di setiap negeri
muslim.
Islam, kata Tan Malaka, telah mengajarkan sosialisme
dan antipenjajahan dua belas abad sebelum Karl Marx lahir. Karena itulah
Pan-Islamisme harus membebaskan rakyat muslim terjajah di mana pun.
Pandangan semacam ini yang kemudian menarik kaum terdidik di Minangkabau
pada awal abad ke-20. Pusat kaum pelajar di Sumatera Barat pada masa
itu berada di Padang Panjang (Diniyah dan Sumatera Thawalib),
Bukittinggi (Parabek Sumatera Thawalib), Padang (Adabiyah Islamic
School), dan sekolah sekuler Kweekschool di Ford de Kock (Bukittingggi).
Penyebab utama tumbuhnya cikal-bakal pergerakan
modern kaum muda di Minangkabau adalah dibangunnya Sekolah Guru di
Bukittinggi, sebagai akibat politik etis Belanda pada awal abad ke-20.
Penyebab lainnya ialah kembalinya pelajar-pelajar Minang berpendidikan
Kairo dan Mekah, yang mendorong berdirinya lembaga pendidikan agama
secara swadaya dan berakibat tumbuhnya pemikiran baru di kalangan
generasi muda Islam.
Pengaruhnya sangat terasa pada dua gelombang
kedatangan alumni Kairo dan Mekah, seperti Syekh Ahmad Wahab, Syekh
Ahmad Chatib, Syekh Taher Djalaluddin, Syekh Karim Amrullah, Syekh
Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, dan generasi alumni Mekah
yang lebih keras, Haji Datuk Batuah, Mukhtar Lufti, dan Ilyas Jacob.
Gelombang pertama kedatangan alumni Timur Tengah
sebenarnya terjadi hampir satu abad sebelumnya, yaitu pra-Perang Bonjol
(1820-an). Mereka adalah Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Tuanku Piobang,
Tuanku Pamasiangan—tokoh-tokoh pergerakan di belakang Tuanku Imam
Bonjol. Modernisasi pemikiran Islam (ada yang menyebutnya sekularisme)
yang dikemukakan Muhammad Abduh dan Kemal Ataturk lebih melekat pada
generasi terakhir pada awal abad ke-20 itu. Pada masa yang bersamaan
berkembang pula di Jawa dan Sumatera gagasan antipenjajahan.
Kemajuan pendidikan di Minangkabau—yang disebut
sebagai salah satu suku yang tertinggi tingkat pendidikannya di Hindia
Belanda (Kahin 2005, Poeze 1988, dan Naim 1979)—sebagai faktor kuatnya
gerakan antipenjajahan dibanding daerah lain. Kahin menulis, ”Orang
Minangkabau sebagai orang-orang yang gelisah, dengan tradisi
pemberontakan dan perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan
perlawanan mereka terhadap kekuatan luar, baik yang dari Jawa maupun
dari Eropa.” Kaum pergerakan kiri di Sumatera Barat selalu mengingatkan
Perang Paderi (1820-1837) dan Perang Belasting 1908 (yang menentang
pemberlakuan pajak langsung kepada rakyat), untuk menumbuhkan rasa tidak
puas kepada pemerintah Hindia Belanda.
Gerakan kiri—diterjemahkan sebagai perlawanan
terhadap kuasa, perlawanan rakyat, radikalisme, antikemapanan,
komunisme, antipenjajahan—bukan hanya milik Tan Malaka. Ia menjadi subur
dan berkembang di Minangkabau karena masyarakatnya menganut paham
kesetaraan, kesamaan derajat, hak dan tanggung jawab (egaliter) sebagai
wujud demokrasi Nagari.
Banyak tokoh nasional yang lahir dari alam
Minangkabau, sejak prakemerdekaan sampai pascakemerdekaan, terutama
hingga era demokrasi liberal (1959). Pada penelitian saya yang bertajuk
Tan Malaka, Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia dan
Singapura (Ombak, 2007), dapat dibuktikan bahwa pejuang kemerdekaan
Malaya (Malaysia) sebagian besar (21 orang) adalah keturunan dan
pendatang dari Minangkabau.
Mereka pendiri dan pimpinan Partai Kesatuan Melayu
Malaya dan Partai Komunis Malaya. Di antaranya ialah Ibrahim Jaacob,
Ahmad Boestaman, Abdullah C.D., Rashid Maidin, Shamsiah Fakeh, dan
Khatijah Sidek. Mereka bukan berada di UMNO, partai kanan. Dari segala
kepeloporan tersebut para pejuang kiri Minangkabau dapat dikategorikan
beraliran: Islam-komunis, Islam-nasionalis, sosialis-demokrat,
nasionalis kiri, dan komunis.
Kecenderungan gerakan kiri kaum muda Minangkabau
tidak lain karena pembekalan alam Minangkabau itu sendiri: demokrasi,
egaliter, kemajuan pendidikan, dan aktualisasi merantau. Roger Tol atau
Harry Poeze mungkin mendapat jawaban—negeri yang subur dan permai itu
sebenarnya melahirkan pemimpin rakyat.
Senin, 14 Mei 2012
Bukittinggi dari Masa ke Masa
Sabtu, 24 Desember 2011 04:03
Tak terasa
pada 22 Desember 2011 kemarin, Kota Bukittinggi memperingati Hari
Jadi Kota (HJK) yang ke-227. Siapa tak kenal Kota Bukittinggi? Tidak
lengkap berkunjung ke Sumatera Barat kalau tidak singgah di Bukittinggi
begitu banyak pendapat untuk mengenal Bukittinggi baik secara historis
maupun keindahan alamnya. Kota yang sebelumnya disebut dengan Fort de
Kock yang dulu pernah dijuluki sebagai Paris van Sumatera. Kota yang
pernah melahirkan seorang Proklamator Republik Indonesia Bung Hatta,
yang disebut juga kota pusaka dengan Jam Gadang sebagai landmark di
ketinggian jantung kota berbentuk jam besar Big Ben yang bernama Jam
Gadang sekaligus menjadi simbol bagi kota yang berada pada tepi sebuah
lembah yang bernama Ngarai Sianok.
Setelah Kota Padang, maka Kota Bukittinggi merupakan kota tertua kedua yang lahir di Sumatera Barat. Namun Kota Bukittinggi memegang peranan penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Di kota ini pernah dijadikan sebagai ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948 – 13 Juli 1949 setelah ibukota Republik Indonesia Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Alhamdulilah perjuangan PDRI telah diakui oleh negara dan dijadikan sebagai Hari Bela Negara yang sudah diperingati setiap tanggal 19 Desember.
Jauh sebelum menjadi ibukota PDRI, Bukittinggi dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman Kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat Pemerintahan Sumatera bagian Tengah maupun Sumatera secara keseluruhan. Semasa pemerintahan Belanda peranan Bukittinggi selalu ditingkatkan peranannya dengan apa yang disebut Gemetelyk Resort berdasatkan Stbl tahun 1828. Belanda telah mendirikan kubu pertahanannya tahun 1825 yang sampai sekarang kubu pertahanan tersebut dikenal dengan Benteng Fort de Kock. Kota Bukittinggi juga digunakan juga oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan opsir-opsir yang berada di wilayah jajahannya di timur ini.
Zaman pemerintahan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand karena disini berkedudukan komandan Milioter ke-25. Pada zaman pemerintahan Jepang Bukittinggi berganti nama dari Taddsgemente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukan nagari-nagari Sianok, Gadut, kapau, Ampang Gadang, Batu taba dan Bukit Batabuah yang sekarang kesemuanya itu kini berada dalam daerah Kabupaten Agam.
Pada zaman kemerdekaan Bukittinggi berperan sebagai kota perjuangan yang ditunjuk sebagai Ibukota PDRI. Selanjutnya Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Propinsi Sumatera dengan Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Kemudian berdasarkan Perpu Nomor 4 Tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai ibukota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau yang sekarang masing-masing sudah menjadi propinsi sendiri.
Setelah keresidenan Sumatera Barat dikembangkan menjadi Provinsi Sumatera Barat, maka Bukittinggi ditunjuk sebagai Ibu Kota Provinsi hingga secara defacto tahun 1958 barulah dipindahkan ke Padang yang secara resmi berdasarkan PP Nomor 29 Tahun 1979 Ibukota Provinsi Sumatera Barat resmi pindah ke Padang. Sekarang Bukittinggi sudah berstatus sebagai Kota Bukittinggi berdasarkan UU Nomor 57 tahun 1974 yang disempurnakan dengan UU Nomor 22 tahun 1999.
Di usianya yang ke-227 di tahun 2011 ini, Kota Bukittinggi telah dipimpin 24 orang Walikota, baik sebagai pejabat sementara (Pjs) atau sebagai pejabat (Pj). Walikota tersebut antara lain: (1).Bermawi Sutan Rajo Ameh, (2). Iskandar Teja Kusuma, (3). Jamin Dt. Bagindo, (4). Aziz Karim, (5). Enin Karim, (6). Saadudin Jambek, (7). Nauman Jamil Dt. Mangkuto Ameh, (8). MB. Dt. Majo Basa Nan Kuaniang, (9). Syahbuddin Latief Dt. Sibungsu, (10). Dr. S. Rivai, (11). Bahar Kamil Marah Sutan, (12). Anwar Maksum Marah Sutan, (13). M. Asril, (14). A. Kamal, SH, (15). Drs. Masri, (16). Drs. Oemar Gaffar, (17). Drs. B. Burhanudin, (18). Drs. Hasan Basri, (19). Armedi Agus, (20). Drs. Rusdi Lubis, (21) Drs. Djufri, (22). Drs. Oktisir Sjovijerli Osir, (23). Drs. Djufri, (24) Ismet Amzis, SH (sampai sekarang).
Meskipun menyandang predikat sebagai kota kecil, tidak berarti Bukittinggi kecil di mata daerah lain. Bagaimana tidak dengan potensi yang dimiliki kota Bukittinggi sangat banyak mempunyai julukan antara lain: (1) Kota Pendidikan, (2). Kota Perjuangan, (3). Kota Jam Gadang, (4). Kota Tri Arga, (5). Kota Wisata, (6). Kota Pelayanan Kesehatan, (7). Kota Jasa dan Perdangangan, (8). Kota Bunga Dahlia (yang baru dicanangkan saat ini).
Sekarang ini dijurumudi pasangan Walikota dan Wakil Walikota Ismet Amzis-Harmazaldi serta ditopang sepenuhnya 25 orang anggota DPRD Kota Bukittinggi, kiprah kota ini semakin eksis di Sumatera Barat dan Nasional. Dengan visi “Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Potensi Unggulan Daerah (Jasa dan Perdagangan, Kepariwisataan, Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan) Yang Dijiwai Oleh Agama Dan Adat, Syarak Mangato Adat Mamakai” kota yang memiliki luas sekitar 25km ini tidak dipandang sebelah mata oleh daerah lain di Indonesia.
Dengan bermacam ragamnya ststus maupun fungsi yang diemban Bukiuttinggi, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Bukittinggi memang strategis letaknya dan ditunjang pula oleh hawanya yang sejuk, karena letak dijajaran Bukit Barisan. Dilihat dari segi kemasyarakatan, Bukittinggi tidak kurang pula perannya, baik dalam ukuran regional, nasional maupun internasional. Dikota ini sering diadakan rapat-rapat kerja pemerintah, pertemuan-pertemuan ilmiah, kongres-kongres oleh organisasi kemasyarakat, pertemuan bilateral kepresidenan dan lain sebagainya. Tidak cukup waktu untuk membicarakan dan menguraikan Bukittinggi dalam tulisan ini. Selamat Hari Jadi Kota Bukittinggi, Selamat Hari Jadi Kotaku ke-227.
M. NUR IDRIS
(Ketua Komisi A DPRD Kota Bukittinggi)
Setelah Kota Padang, maka Kota Bukittinggi merupakan kota tertua kedua yang lahir di Sumatera Barat. Namun Kota Bukittinggi memegang peranan penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Di kota ini pernah dijadikan sebagai ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948 – 13 Juli 1949 setelah ibukota Republik Indonesia Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Alhamdulilah perjuangan PDRI telah diakui oleh negara dan dijadikan sebagai Hari Bela Negara yang sudah diperingati setiap tanggal 19 Desember.
Jauh sebelum menjadi ibukota PDRI, Bukittinggi dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman Kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat Pemerintahan Sumatera bagian Tengah maupun Sumatera secara keseluruhan. Semasa pemerintahan Belanda peranan Bukittinggi selalu ditingkatkan peranannya dengan apa yang disebut Gemetelyk Resort berdasatkan Stbl tahun 1828. Belanda telah mendirikan kubu pertahanannya tahun 1825 yang sampai sekarang kubu pertahanan tersebut dikenal dengan Benteng Fort de Kock. Kota Bukittinggi juga digunakan juga oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan opsir-opsir yang berada di wilayah jajahannya di timur ini.
Zaman pemerintahan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand karena disini berkedudukan komandan Milioter ke-25. Pada zaman pemerintahan Jepang Bukittinggi berganti nama dari Taddsgemente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukan nagari-nagari Sianok, Gadut, kapau, Ampang Gadang, Batu taba dan Bukit Batabuah yang sekarang kesemuanya itu kini berada dalam daerah Kabupaten Agam.
Pada zaman kemerdekaan Bukittinggi berperan sebagai kota perjuangan yang ditunjuk sebagai Ibukota PDRI. Selanjutnya Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Propinsi Sumatera dengan Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Kemudian berdasarkan Perpu Nomor 4 Tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai ibukota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau yang sekarang masing-masing sudah menjadi propinsi sendiri.
Setelah keresidenan Sumatera Barat dikembangkan menjadi Provinsi Sumatera Barat, maka Bukittinggi ditunjuk sebagai Ibu Kota Provinsi hingga secara defacto tahun 1958 barulah dipindahkan ke Padang yang secara resmi berdasarkan PP Nomor 29 Tahun 1979 Ibukota Provinsi Sumatera Barat resmi pindah ke Padang. Sekarang Bukittinggi sudah berstatus sebagai Kota Bukittinggi berdasarkan UU Nomor 57 tahun 1974 yang disempurnakan dengan UU Nomor 22 tahun 1999.
Di usianya yang ke-227 di tahun 2011 ini, Kota Bukittinggi telah dipimpin 24 orang Walikota, baik sebagai pejabat sementara (Pjs) atau sebagai pejabat (Pj). Walikota tersebut antara lain: (1).Bermawi Sutan Rajo Ameh, (2). Iskandar Teja Kusuma, (3). Jamin Dt. Bagindo, (4). Aziz Karim, (5). Enin Karim, (6). Saadudin Jambek, (7). Nauman Jamil Dt. Mangkuto Ameh, (8). MB. Dt. Majo Basa Nan Kuaniang, (9). Syahbuddin Latief Dt. Sibungsu, (10). Dr. S. Rivai, (11). Bahar Kamil Marah Sutan, (12). Anwar Maksum Marah Sutan, (13). M. Asril, (14). A. Kamal, SH, (15). Drs. Masri, (16). Drs. Oemar Gaffar, (17). Drs. B. Burhanudin, (18). Drs. Hasan Basri, (19). Armedi Agus, (20). Drs. Rusdi Lubis, (21) Drs. Djufri, (22). Drs. Oktisir Sjovijerli Osir, (23). Drs. Djufri, (24) Ismet Amzis, SH (sampai sekarang).
Meskipun menyandang predikat sebagai kota kecil, tidak berarti Bukittinggi kecil di mata daerah lain. Bagaimana tidak dengan potensi yang dimiliki kota Bukittinggi sangat banyak mempunyai julukan antara lain: (1) Kota Pendidikan, (2). Kota Perjuangan, (3). Kota Jam Gadang, (4). Kota Tri Arga, (5). Kota Wisata, (6). Kota Pelayanan Kesehatan, (7). Kota Jasa dan Perdangangan, (8). Kota Bunga Dahlia (yang baru dicanangkan saat ini).
Sekarang ini dijurumudi pasangan Walikota dan Wakil Walikota Ismet Amzis-Harmazaldi serta ditopang sepenuhnya 25 orang anggota DPRD Kota Bukittinggi, kiprah kota ini semakin eksis di Sumatera Barat dan Nasional. Dengan visi “Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Potensi Unggulan Daerah (Jasa dan Perdagangan, Kepariwisataan, Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan) Yang Dijiwai Oleh Agama Dan Adat, Syarak Mangato Adat Mamakai” kota yang memiliki luas sekitar 25km ini tidak dipandang sebelah mata oleh daerah lain di Indonesia.
Dengan bermacam ragamnya ststus maupun fungsi yang diemban Bukiuttinggi, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Bukittinggi memang strategis letaknya dan ditunjang pula oleh hawanya yang sejuk, karena letak dijajaran Bukit Barisan. Dilihat dari segi kemasyarakatan, Bukittinggi tidak kurang pula perannya, baik dalam ukuran regional, nasional maupun internasional. Dikota ini sering diadakan rapat-rapat kerja pemerintah, pertemuan-pertemuan ilmiah, kongres-kongres oleh organisasi kemasyarakat, pertemuan bilateral kepresidenan dan lain sebagainya. Tidak cukup waktu untuk membicarakan dan menguraikan Bukittinggi dalam tulisan ini. Selamat Hari Jadi Kota Bukittinggi, Selamat Hari Jadi Kotaku ke-227.
M. NUR IDRIS
(Ketua Komisi A DPRD Kota Bukittinggi)
Minggu, 13 Mei 2012
Jumat, 11 Mei 2012
Sejarah Kota Bukittinggi
Kota Bukittinggi - Jam Gadang
Kota Bukittinggi mulai berdiri seiring dengan kedatangan Belanda yang kemudian mendirikan kubu pertahanan pada tahun 1825 pada masa Perang Padri di salah satu bukit yang terdapat dalam kota ini, dikenal sebagai Benteng Fort de Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Kemudian pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah Stadsgemeente (kota),dan juga berfungsi sebagai ibukota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.
Pada masa pendudukan Jepang, Kota Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand, di mana pada kota ini menjadi tempat kedudukan komandan militer ke 25 Kenpeitai, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Hirano Toyoji. Kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgemeente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya seperti Sianok Anam Suku, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba dan Bukit Batabuah. Sekarang nagari-nagari tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Agam.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Bukittinggi ditetapkan sebagai wilayah pemerintahan kota berdasarkan Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Nomor 391 tanggal 9 Juni 1947, sekaligus menjadi ibukota Provinsi Sumatera waktu itu, dengan gubernurnya Mr. Teuku Muhammad Hasan.
Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan, di mana pada tanggal 19 Desember 1948, kota ini ditunjuk sebagai ibukota negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dikemudian hari, peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tanggal 18 Desember 2006.
Selanjutnya Kota Bukittinggi menjadi Kota Besar berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kota besar dalam lingkungan daerah provinsi Sumatera Tengah masa itu,yang meliputi wilayah provinsi Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau sekarang.
Walaupun setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1999 sebagai dasar hukum baru pemerintahan daerah Kota Bukittinggi namun dalam implementasinya sampai sekarang masih belum dapat dilaksanakan.
Geografi Kota Bukittinggi
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera, dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Singgalang, Gunung Marapi dan Gunung Sago, serta berada pada ketinggian 909 – 941 meter di atas permukaan laut. Kota ini juga berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1 – 24.9 °C. Sementara dari total luas wilayah kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82.8% telah diperuntukan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan ini, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan dan sebagainya. Sementara terdapat lembah yang dikenal juga dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75 - 110 m, yang didasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang yang bermuara di pantai barat pulau
Perkembangan penduduk kota Bukittinggi tidak lepas dari berubahnya Bukittingi menjadi pusat perdagangan di dataran tinggi Minangkabau, dimulai dengan dibangunya pasar oleh pemerintah Hindia-Belanda tahun 1890 dengan nama loods, masyarakat setempat mengejanya dengan loih, dengan atap melengkung kemudian dikenal dengan nama Loih Galuang.
Saat ini kota Bukittingi merupakan kota terpadat di provinsi Sumatera Barat, dengan jumlah angkatan kerja 52.631 orang dan sekitar 3.845 orang di antaranya merupakan pengangguran.Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat juga etnis Tionghoa, Jawa, Tamil dan Batak.
Masyarakat Tionghoa datang bersamaan dengan munculnya pasar-pasar di Bukittinggi, mereka dizinkan pemerintah Hindia-Belanda membangun toko/kios pada kaki bukit benteng Fort de Kock sebelah barat, membujur dari selatan ke utara, saat ini dikenal dengan nama Kampung Cino. Sementara pedagang India ditempatkan di kaki bukit sebelah utara, melingkar dari arah timur ke barat dan sekarang disebut juga Kampung Keling.
ocky_de_larocha
31-01-2012, 01:26 PM
http://3.bp.blogspot.com/-XGs4gibcGNk/TfdVf10yllI/AAAAAAAAAVs/jfHOFstHdo4/s400/Kota+Solok++%2528Solok%2529.jpg
SOLOK - Menurut sejarah, semenjak orang tua-tua terdahulu, nama daerah Solok berawal dari sebutan nama Nagari Solok, persisnya Kota Solok sekarang.
Namun sebutan nama Solok justru akhirnya menjadi lazim ketika menyebutkan daerah asalnya tatkala tengah berada di luar daerah dan di perantauan, meskipun orang tersebut sesungguhnya berasal dari Nagari Selayo, Koto Baru, Cupak, Talang, Singkarak, Koto Anau, Gauang, Panyakalan, Muara Panas, Kinari, Kayu Aro, Guguk, dan lain sebagainya.
Konon sebutan Solok bermakna saelok alias baik. Dari penuturan sejumlah tokoh adat, daerah Solok bermula juga dari sejarah Kubuang Tigobaleh, persisnya semasa Sumatra Barat ini masih sitem kerajaan Minangkabau.Konon Kubuang Tigobaleh berarti kubuang tiga belas datuk dari lingkungan kerajaan Minangkabau, terkait sesuatu persoalan, sehingga dianggap pembangkang. Artinya dulu raja Minangkabau yang sedang berkuasa marah besar,sehingga memutuskan mengusir tiga belas datuk dari lingkungan kerajaan.
Para niniak rang Kubuang Tigobaleh tersebut pun pergi mencari daerah baru. Awalnya dari Pariangan Padang Panjang berjalan ke arah Danau Singkarak, dan ketika sampai di daerah Aripan sekarang, mereka menoleh ke suatu hamparan yang terlihat datar di bawah, sehingga pada saat itu terucaplah kata disitulah tampak nan raso kaelok yang kemudian berubah menjadi Solok. Dalam perjalanannya, para rombongan itu juga sempat menuju tempat ketinggian guna meninjau keadaan alam untuk ditempatinya, yaitu Bukit Gurunan (dekat Payo), dan ada sejumlah sumber mengatakan bahwa tempat itu adalah Aur Berangin (daerah Gaung). Akan tetapi alasan yang lebih dapat diterima logika bahwa tempat ketinggian tersebut diprediksikan Padang si ribu-ribu (dekat Kuncir) atau bukit antara Teluk dengan Tanjung Paku.
Dari tempat ketinggian inilah nenek moyang orang Solok melihat suatu dataran yang cukup baik yang mereka sebut dengan saelok-eloknyo yang dalam perkembangannya kata saelok-eloknyo berubah menjadi Solok. Karena informasi mengenai sejarah terjadinya nama daerah/nagari kebanyakan berasal dari cerita lisan, sangat sedikit sekali secara tertulis atau berupa catatan. Sehingga sejarah awal mula nama suatu daerah memiliki banyak versi. Generasi sekarang menerima kebenaran sejarah adalah dari tambo, dan cerita-cerita dari orang tua-tua terdahulu yang dianggap tokoh adat, sangat sedikit dikuatkan dengan peninggalan bukti sejarah. Berbeda dengan sejarah di daerah lain, yang diperkuat dengan peninggalan prasasti, monumen, candi-candi, sebagaimana kerajaan Sparta, Athena, Mesir dan lain sebagainya. Namun dilain sisi, banyak juga pihak yang menyatakan kata Solok juga berasal dari kata selo. Hal ini disebabkan karena adanya Batang Sumani yang berbelok-belok (selo) dan kemudian kata tersebut juga berubah menjadi Solok. Versi lain menyebutkan, konon nenek moyang orang Solok dahulunya mempunyai kemampuan lebih dalam setiap menyelesaikan berbagai masalah, dan memiliki wawasan, pola pikir yang luas jauh ke depan sehingga dengan kemampuan tersebut, membuat Pimpinan Luhak Tanah Datar dahulunya sering memberikan tugas kepada mereka untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Luhak Tanah Datar. Dengan janji apabila tugas tersebut berhasil diselesaikan, kepada mereka dijanjikan imbalan sesuai permintaan mereka. Berkat sukses dalam menyelesaikan masalah, diberikan pada mereka suatu wilayah di luar Luhak Tanah Datar, yaitu Daerah Kubuang Tigo Baleh sekarang yang pada waktu itu belum lagi disebut Kubuang Tigo Baleh.
Pada zaman penjajahan, Onder Distrik Solok dikepalai oleh Demang. Di era Distrik, Solok dikepalai oleh Controleur, sewaktu Afdeling Solok, termasuk di dalamnya Afdeling Sawahlunto dikepalai oleh Resisten Rest Indent. Pada zaman kemerdekaan, Solok disempurnakan menjadi daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Solok sebagaimana diatur Undang-undang Nomor 12 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Sumatra Tengah. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah). Namun selanjutnya disempurnakan lagi dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah. Pemerintahan ini dipimpin oleh seorang bupati sebagai kepala daerah.
Semenjak diresmikannya Kotamadya Solok pada tanggal 16 Desember 1971, maka Nagari Solok yang semula merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Solok telah berdiri sendiri menjadi daerah tingkat II, dengan mempunyai kedudukan yang sama dengan Kabupaten Solok. Meskipun Solok telah berdiri sendiri dengan nama Kota Solok, namun Ibukota Kabupaten Solok sampai lahirnya Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2004 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Solok Dari Wilayah Kota Solok ke Kayu Aro-Sukarami (Arosuka) di Wilayah Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok masih tetap berada di Solok.
YULICEF ANTHONY
Pulau Belibis + Arena Outbound Di Ampang Kualo Kota Solok:
http://padang-today.com/up/berita/pulau%20belibis.jpg
Langganan:
Postingan (Atom)
